Happy Birthday, Kim Jonghyun ^o^

Istimewa

Tag

,

Yak, ini pasti salah satu hari yang dinanti para SHAWOL di seluruh dunia khususnya para Blingers. Kita semua tahu, ini hari yang spesial buat Jonghyun dimana usianya telah bertambah 1 tahun. Ciee~ kayaknya ada yang mesem-mesem nih *nunjuk Jjong* 😀

Mungkin di sini nggak banyak yang bisa aku sampaikan, yang pasti aku berharap Jonghyun mendapatkan hal yang terbaik hari ini, baik dalam urusan karir, keluarga, persahabatan, dan kesehatan. Kalau untuk cinta cukup sama aku. Hahahahaha *dibakar blingers*

Oke, mari kita semua berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar Jonghyun mendapatkan yang terbaik hari ini.

Berdoa mulai!

..

..

..

Selesai!

..

Oke, mungkin sekian aja isi postingan ini. Biarpun sederhana, yang pasti tujuannya mulia. hehehehe ^^v

Ayo kita serukan bersama-sama, Saengil Chukka Hamnida, Kim Jonghyun. Wish You all The best, God Bless You Alwas.

Saranghae.. ^^

Regards,

Chandra Shinoda

CHANDRA – ART

Istimewa

Postingan ini sebenarnya cuman iseng *plakk*.

Aku cuma ingin mengabadikan *cieelah* poster-poster yang pernah aku buat. Kasihan rasanya kalau nggak punya kenang-kenangan tentang mereka *mulai ngawur ngomongnya* ==

Di sini ada kumpulan poster dari semua FF yang pernah aku buat. Ada juga beberapa bocoran poster buat FF-ku selanjutnya. Ada yang mau lihat? hehehe

Let’s check it!

.

My first banner @2009

.

Poster FF Lost Memory

.

Poster FF The Chronicles of Behind Her Cuter Nickname

.

Poster FF Reason For You, Pudding’s Jelly

.

Signature di blog SF3SI

.

Poster FF From The Past

.

Poster The Lost Life – With Im Yoona (SNSD)

.

Poster The Lost Life – With Taemin

.

Poster FF In The Library

.

Poster FF The Silent Touch of Marriage

.

Bocoran Poster Ff-ku Selanjutnya 

(ʃƪ´⌣`)(´⌣`ʃƪ)

1. Black Pearl, Give Me Once More Chance

.

2. You Are Bicth, Happy Princess!

*CLICK THE IMAGE TO ENLARGE*

Silakan RCL kalau ada pendapat, ya? ^^

 Regards,

Chandra Shinoda ‘^^,

How To Get Password?

Istimewa

Ada yang mau PW??? hehehehe.. di sini nih tempatnya. Gampang aja caranya. Gini nih:

1. Don’t Be a Silent Reader! Kalian harus komen dulu, minimal di 2 part FF yang nggak diprotect.

2. Kalau sudah komen, nanti kalian leave a comment aja di sini. Biar aku yang kirim pw ke email kalian.

3. Bagi yang sudah dapat PW, jangan menyebarluaskan tanpa seizinku, apalagi pada reader yang masih di bawah umur! ingat komen juga setelah dapet PW.

kalau ada yang mau ditanyakan, leave a comment aja yah..

Ok, segitu aja dulu. Makasih atas perhatiannya.

.

regardz;

Chandra Shinoda

*istrinya Jonghyun No. 1, muahahahahaha*

Welcome

Istimewa

Annyeong haseyo! Welcome to my blog!

Thanks buat yang udah meluangkan waktu buat mampir ke blog-ku. (o^_^o)

Ehm, pertama-tama kenalin, namaku Putu Cahya Chandranita. Panggil Chandra aja yah.. aku yeoja loh, banyak yang ngira aku namja karena namaku, ckckck.. aku lahir 22 Juli 1993. Aku dari Bali loh, domisiliku di Tabanan.

Terus, ini dia infoku yang lain:

Nickname : Chandra Shinoda

TTL  : 22 Juli 1993

Korean Name : Kim Hyora *bilang aja narsis*

Hobby : Gak jelas *plakkk*

Boyband Fav. : SHINee

Girlband Fav. : SNSD, F(x)

Fandom utama: SHAWOL, SONE

Pekerjaan: Mahasiswa

Sejarah Pendidikan: #plakk

– TK Widya Suastika

– SD N 2 Bengkel

– SMP N 1 Tabanan

– SMAN 1 Tabanan

– Universitas Warmadewa/Fakultas Kedokteran/ PS. Pendidikan Dokter

.

Social network:

Facebook: http://www.facebook.com/Blingbling.Princess.Chandra

Email :blingblingchandra_almighty@yahoo.com.

Twitter: @chandrashinoda

Selain nulis FF sekarang aku juga isi blog-ku dengan Trailer dari Asian Horror. Maklum, penggemar film horor, hehehe. Eh lupa, ada drama musical Taeyeon juga disini.

Kalau bingung nyari FF-ku dimana search aja di page Library, lalu tinggal pilih Sequel, oneshot, chronicles, atau twoshot, ok?

Ngomong-ngomong tentang K-Pop sendiri aku ini SMLine.. 😛

ini masing-masing bias yang aku suka dari BB/GB SM

DBSK:

  •  Hero

Super Junior:

  • Donghae
  • Kyuhyun
  • Yesung

SNSD:

  • Jessica
  • Taeyeon
  • Sooyoung
  • Yuri
  • Yoona

SHINee:

  • Jonghyun
  • Minho
  • Taemin
  • Onew
  • Key (serakah, hahahaha 😛 )
F(x):
  • Amber
  • Victoria
  • Luna
Kalau untuk couple aku:
  • YunJae
  • KyuMin
  • TaeSica
  • YulSic
  • JongKey
  • 2Min
Kalau untuk couple straight aku suka SHINee Generation!!!! (ʃƪ´⌣`)(´⌣`ʃƪ)
JongSica, MinYul, SooKey (KeYoung), OnTaeng, YooMin, aku suka semua dehh..
Gimana dengan kalian?
boleh vote di sini deh:

Oke, sekian deh..

Happy reading! Silakan menjelajah.

Dear Readers!

Halo, Readers sekalian. Maaf, lama banget saya hiatus dari blog ini.

FF saya yang di sini udah saya stop semua yah. Semua cerita yang ada di sini saya pindah ke akun wattpad saya @CahyaChandranita

alasannya, karena ada pengguna wattpad atas nama newjjongkimin yang plagiat cerita The Silent Touch of Marriage. Memang ga tau malu orang itu. Semua cerita di aku wattpadnya plagiat.

Bagi kalian yang mau baca lanjutan cerita saya bisa follow wattpad saya yah, pastikan juga kalian punya account wattpad.

Makasih perhatiannya 😀

 

 

 

Charming Girl?! Oh My God! {The Chronicles of Behind Her Cute Nickname}

Tag

, , , ,

JANGAN MENCURI, MENJIPLAK, MENG-COPY-PASTE ATAU MENGGANDAKAN FF INI TANPA SEIZIN AUTHOR!

JANGAN MENJADI PLAGIAT. HARGAI KARYA ORANG LAIN DAN BE CREATIVE!

Charming Girl? Oh, My God!

Author            : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast       :

  • Lee Taemin (SHINee)
  • Im Yoona (SNSD)

Support Cast   :

  • Other SHINee and SNSD members
  • Choi Sulli (F(x))

Length             : Oneshot

Genre              : Fluff, friendship, romance

Rating             : PG-13

Summary        : “Jika kau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah jalan kecil, tapi jalan setapak yang membawa orang menuju mata air.”

Fiuh.., lama banget yah nungguin FF ini? Apa masih ada yang inget sama FF Chronicles ini? Kalau lupa bisa kalian cek teasernya disini

Jujur nih, aku ngerjain FF ini rada buru-buru. Maaf seandfainya kurang puas atau Feelnya kurang dapet, yah 😥

Enjoy ! :D 

***

Yoona menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya diantara sela bantal tidurnya. Rasa kesal menyelimutinya. Untuk suatu alasan yang sederhana, ‘gagal’, satu lagi kata itu didapatkannya setelah Taemin mencoba bubur air lautnya. Memalukan, memasak bubur saja tidak becus. Bagaimana dengan kare, tofu, ayam lada hitam atau yang lain?

“Haahh, payah!” Yoona mendengus, ia mengacak-acak rambutnya. Sekarang apa yang baiknya dia lakukan? Seluruh tugas sekolah telah dikerjakannya siang tadi. Ia bahkan telah mempersiapkan dirinya matang-matang untuk ulangan matematika besok.

“Bagaimana kalau aku mencoba memasak yang lain saja?” Yoona berusaha menggali ke dalam pikirannya.

Sejenak Yoona memejamkan matanya, membayangkan satu persatu makanan dengan kriteria ‘mudah dan gampang’ yang mungkin bisa dimasaknya. Warna kuning, sedikit berminyak, dan lebar. “Baik, aku punya 1 ide!”

***

Yoona menatap kerumunan siswa yang memenuhi kantin. Kumpulan makhluk dengan perut kosong itu terlihat bergitu antusias, tak mau mengalah agar mendapat giliran lebih dulu.

Yoona mulai memutar bola matanya, mencari-cari sosok Taemin. Tumben sekali anak itu tak menampakkan batang hidungnya. Biasanya dia anak yang paling bersemangat jika Yoona mencarinya.

Terlalu sibuk dalam urusan Taemin membuat Yoona tak sengaja menginjak sesuatu yang terjatuh di lantai. Ia berjongkok, tangannya meraih benda bersampul putih miris yang kini ternoda oleh cap telapak sepatunya.

“Sebuah buku catatan biologi,” gumam Yoona. Kedua alisnya mengernyit. Siapa orang ceroboh yang menjatuhkan buku sepenting itu? Yoona membuka sampulnya. Identitas yang ada hanya CS, 2-2. “Barangkali punya anak dari kelas 2-2.”

Yoona kembali berdiri, mencari-cari adik kelas dari kelas 2-2 yang mungkin dikenalnya. “Ahh, kau, Seohyun-ah,” Yoona menemukan salah satunnya yang sedang duduk menikmati makan siangnya di salah satu meja di sebelah Timur. “Kau dari kelas 2-2, kan?”

Seohyun mengangguk, tak bisa bicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.

“Ini, barusan aku menemukannya terjatuh. Kurasa pemiliknya sekelas denganmu. Kau tahu?” Yoona menyerahkan buku itu, dengan harapan Seohyun mengetahuinya.

Ne, aku tahu, Eonnie.” ucap Seohyun sembari tersenyum. “Biar aku yang mengembalikan ke pemiliknya.”

Gomawo.” ujar Yoona, terdengar lega, kemudian berlalu.

Yoona kembali dengan kesibukannya semula. Sosok Taemin yang masih belum menampakkan wajahnya membuat Yoona memiliki persepsi buruk. Sebagai pilihan terakhir, ia menghampiri Taeyeon yang sedang melahap makan siangnya bersama Jinki.

“Taeyeon-ah, kau lihat Taemin?” tanya Yoona, membuat Taeyeon menatapnya dengan kedua mata bulatnya.

“Err, kurasa dia bersama Sulli di halaman belakang,” jawab Taeyeon sesuai dengan memori yang ia ingat 20 menit yang lalu.

“Sulli?”

Ne, kurasa Sulli membuatkan bekal untuknya,” jawab Taeyeon lagi.

“Oh, begitu. Ya sudah, aku pergi dulu.” Yoona tersenyum hambar, tak lupa sedikit membungkukkan kepalanya di hadapan kedua sahabatnya.

***

Semilir angin terasa sejuk begitu Yoona menginjakkan kakinya pada rerumputan di halaman belakang. Kakinya berhenti melangkah ketika telinganya menangkap suara.

“Bagaimana, kau suka?”

Suara cempreng yang hampir selalu terdengar ceria itu terdengar familiar. Yah, tentu, suara itu milik Sulli.

“Ne, sangat enak. Rasanya pas. Terima kasih, ya,”

Satu lagi suara berat menimpali, membuat Yoona menggigit bibir bagian bawahnya. Suara itu, milik Taemin.

“Nanti bantu aku menyelesaikan PR biologi, ya?” Sulli terdengar antusias. Ia menatap wajah Taemin yang sibuk melahap bekal yang ia buatkan dengan penuh semangat.

“Baiklah. nanti buatkan aku makan siang lagi, ya,” Taemin mengangguk. Ia tertawa kecil.

Yoona menghela nafas berat. Angin yang berhembus disekitar lehernya tak lagi terasa sejuk. Dadanya terasa panas. Hei, apakah dia sedang cemburu? Entahlah, ia sendiri tak tahu itu. Yang ada dalam pikirannya hanya kesal dan minder. Sulli adalah anggota terbaik dari klub memasak. Siapa anak di sekolah ini yang tak tahu dia?

Yoona melangkahkan kakinya kembali ke kantin. Kali ini tempat yang dipenuhi berbagai macam bau makanan itu sudah tampak sepi. Yoona memilih tempat duduk paling ujung di dekat dinding. Ia menghenyakkan tubuhnya dengan malas di kursi. Perlahan ia menyandarkan puncak kepalanya di dinding. Benda putih yang terbangun kokoh itu ia rasa mampu untuk menahan beban yang kini membuat kepalanya terasa sedemikian berat. Jemarinya bergerak membuka kotak berwarna pink yang sejak tadi dibawanya. Ia menatap gulungan benda kuning yang ia masak dengan susah payah pagi tadi.

“Ini pasti tak ada bandingannya dengan masakan Sulli!” Yoona mendengus. Ia melahap bekal makan siang yang harusnya ia berikan pada Taemin dalam diam. Ia tak benar-benar lapar. Namun, rasa kesalnya mendorong isi kotak makan berwarna pink itu untuk masuk ke perutnya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun ketika mengunyah segulung telur dadar yang dibuatnya tadi pagi. Alasannya sederhana, tak ada rasa apapun pada benda kuning berminyak itu selain licin. Payah, tujuan yang ingin dicapainya gagal lagi kali ini.

“Noona, kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana.” seseorang namjamenghampiri Yoona. Sosok periang dan kekanak-kanakan, Lee Taemin.

Yoona tersenyum tipis. Ekor matanya melirik sekilas wajah Taemin yang nampak antusias. Ia hanya menghela nafas sejenak lalu melanjutkan makan siangnya.

Taemin memiringkan kepalanya. Aneh rasanya melihat Yoona tak balas menyapanya, namun lebih aneh lagi melihat yeoja itu memawa makan siang. Taemin menarik kursi kosong di hadapan Yoona, bergabung dengan keasyikanyeoja itu dengan bekalnya.

“Wah, kau bawa bekal, tumben,” Taemin membuka pembicaraan, menghilangkan kecanggungan yang sempat terjadi.

Yoona masih bungkam. Selera makannya makin memburuk. Ia memutar bola matanya, mulai menghentak-hentakkan sendok makannya.

“Kenapa tak menjawabku, Noona?” Taemin mengernyitkan alisnya, tak mengerti dengan tingkah Yoona.

“Diamlah, aku sedang makan!” bentak Yoona. Dadanya berubah naik turun dengan cepat.

“Ne?” masih dengan tatapan polos tak berdosanya, Taemin melontarkan pertanyaan itu. Ia masih belum tahu dimana letak kesalahannya dalam kasus ini. “Err, boleh aku minta sedikit?” ia memancing Yoona.

Aniyo!” sekali lagi Yoona mengeluarkan suaranya dengan nada tegas.

Ne? Waeyo?” bagus, semakin Taemin memancing Yoona semakin ia bingung harus melakukan apa.

“Perutmu itu sudah penuh, buat apa makan lagi?” Yoona sedikit menurunkan nada bicaranya. Ia mulai tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini.

“Ne?”

Aish, daritadi ne, ne terus! Kau sudah makan bekal yang dibuatkan Sulli, bukan?”

“Ne.” Taemin mengiyakan pertanyaan Yoona. “Hajiman..,”

“Makanlah sendiri, aku ada urusan dengan Taeyeon!” Yoona bangkit dari tempat duduknya. Ia berlalu meninggalkan Taemin dan kotak makanannya yang masih tersisa setengah.

***

Yoona kembali menikmati bekal makan siangnya seorang diri. Ia memasukkan sepotong ayam lada hitam ke mulutnya. Percikan pedas dari taburan lada pada ayam itu membuat Yoona memejamkan matanya. Makanan pedas itu mungkin bisa membuatnya wasir saat memenuhi panggilan alam di kamar mandi besok pagi. Tapi, demi menghilangkan rasa kesalnya ia rela melakukan itu. Ia sadar sikapnya seperti anak-anak kemarin siang. Cemburu membuatnya lupa dengan statusnya sebagai siswi kelas 3 SMA. Namun, siapa yang peduli? Orang dewasa yang putus cinta mungkin melakukan hal yang lebih gila darinya, contohnya, bunuh diri.

Noona, kau bawa bekal lagi?” Taemin menghampirinya, turut bergabung dan bersikap seolah kemarin tak terjadi apa-apa diantara mereka.

Yoona tak menjawab. Sekilas pandangannya beradu dengan Taemin. Kotak makanan yang dibawa Taemin membuatnya makin enggan untuk mengeluarkan suaranya.

“Boleh aku coba?” Taemin tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya.

“Bukankah kau sudah bawa bekal?” tanya Yoona dingin, menyuap lagi ayam lada hitam super pedasnya.

“Err, ini hanya ucapan terima kasih dari Sulli,” senyum di wajah Taemin sedikit memudar. Reaksi Yoona seolah seperti warning shot baginya.

“Oh..,” tanggap Yoona pendek.

Masih belum ingin berpikiran buruk, Taemin menyendok ayam di kotak makanan Yoona. “Wah, mashita!” seru Taemin, meski kedua pipinya memerah akibat menahan pedas.” Kau yang memasaknya? Benar-benar enak,”

“Bukan, Lee Ahjumma,” ucap Yoona, menyebut nama pelayannya. Jelas makanan itu enak. Apa mungkin dia yang keahlian memasaknya begitu parah bisa membuatnya? Atau Taemin memang berniat menyindirnya?

“Oh, mian,” Taemin menunduk, ia menjadi serba salah.

“Aku duluan, ya.” Yoona bangkit dari tempat duduknya. Pembicaraan tak mengenakkan tadi membuat ayam di mulutnya berubah menjadi seratus kali lebih pedas.

“Tunggu! Sebenarnya ada apa denganmu?” Taemin mencegat tangan Yoona. Ia tak tahan dengan sikap aneh yeoja itu. “Kau marah karena Sulli membuatkan bekal untukku?” ia menatap Yoona tajam sementara yang ditatap hanya mengernyitkan alisnya. “Kalau iya, aku tak akan memakannya,”

“Jangan kekanak-kanakan!” Yoona menghempaskan tangan Taemin. “Makan saja, aku benar-benar ada urusan sekarang,”

***

Yoona menghampiri Taeyeon yang sibuk dengan setumpuk buku di perpustakaan. Yeoja itu terlihat begitu serius. Jika ini bukan untuk meminjam catatan pelajaran, Yoona tak akan tega mengganggunya.

“Kau sendirian?” Yoona duduk di Samping Taeyeon, membuat yeoja itu tersenyum dan menghentikan sebentar kegiatan membacanya. “Mana Jinki?”

“Dia di kelas, sedang makan bersama Sulli,” jawab Taeyeon pendek, kembali beralih dengan buku biologinya.

“Kau bilang siapa?” Yoona tersentak. “Sulli?”

“Iya,” Taeyeon mengangguk. Apakah ada yang salah?

Yoona terdiam sesaat, mencerna apa yang ada saat ini di otaknya. Melihat reaksi Taeyeon membuatnya sedikit merasa bersalah pada Taemin.

“Ya, kau tidak khawatir membiarkan mereka makan berdua saja?” tanya Yoona, sedikit ragu-ragu.

Sebelah alis Taeyeon terangkat. “Untuk apa? Lagipula Sulli hanya berterima kasih karena kemarin Jinki membantunya berlajar statistika,” ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk itu. Memangnya kita berhak melarang seseorang untuk mengucapkan terima kasih?

“Oh, err, mana catatan kimiamu? Aku mau pinjam.” Yoona mengalihkan pembicaraan. Senyum hambar terlukis di bibirnya, ia jadi salah tingkah.

“Ini,”

***

Yoona melangkahkan kakinya dengan gontai di sepanjang koridor. Tak peduli dengan anak-anak lain yang berlalu lalang di sekitarnya. Jam pulang sekolah yang buruk, pikirnya. Apa yang akan ia katakan jika bertemu dengan Taemin? Meminta maaf? Ia rasa tidak. Gengsinya terlalu besar. Dan apakah seorangyeoja yang cemburu pada namja chingu-nya ketika melihatnya bersama yeojalain salah?

Angin kembali menerpa wajahnya ketika ia menginjakkan kaki di halaman depan sekolah, lembab, dan penuh uap air. Yoona menegadahkan kepalanya ke langit. Kumpulan awan hitam mulai memuntahkan cairannya.

“Astaga, hujan!” Yoona menutupi puncak kepalanya. Secepat mungkin ia berlari menuju ke mobilnya. Hujan yang semakin  deras membuatnya tak bisa berkonsentrasi melihat jalanan. Brukk… “Aish, batu sialan!” Yoona tersungkur. Tubuhnya membentur trotoar jalan, terasa ngilu. Ia yakin ada salah satu bagian tubuhnya yang tidak beres. “Haah, pergelangan kakiku terkilir,” tepat. Ia menemukan masalahnya ketika menyadari tubuhnya tak bisa berdiri dengan tegak.

Ya! Kenapa ceroboh sekali, Noona?!” seseorang menghampirinya. Itu Taemin, muncul dengan seragam coklatnya yang sebagian basah oleh hujan.

“Kau?” sekilas Yoona menatap Taemin terkejut, namun rasa ngilu di kakinya membuatnya tak bisa membagi konsentrasi untuk bicara pada Taemin. “Aish!

“Naiklah!” Taemin berjongkok membelakangi Yoona. Kedua tangannya telah siaga di balik punggungnya, siap menopang berat tubuh Yoona.

Yoona terdiam. Ia tak memberikan respon apapun kecuali menatap Taemin dengan kedua mata membulat.

“Kubilang naik ke punggungku!” tegas Taemin. Pertama kali ia berbicara pada Yoona dnegan suara sekeras itu.

Ani, aku bisa jalan sendiri!” Yoona menolak. Ia menyeret paksa kakinya untuk berjalan.

Aish, Im Yoona, kau ini keras kepala sekali!” Taemin mencegat pergelangan tangan Yoona. Jujur, ia ingin tertawa saat ini. Apakah Yoona sebegitu malunya digendong oleh tunangannya? Atau dia masih marah dengan masalah Sulli saat makan siang tadi?

Ya! Kau mau cari penyakit dengan hujan-hujanan begini?!” Yoona berteriak. Ia tahu Taemin memiliki daya tahan tubuh yan buruk jika menyangkut hujan. Maka dari itu ia tak mau merepotkan Taemin dengan menggendongnya sampai ke mobil.

Ish, harusnya aku yang tanya begitu. Cepat naik!” Taemin tetap bersikeras. Ia menatap Yoona lekat-lekat, meyakinkan pada yeoja itu bahwa ia akan baik- baik saja.

“Ba.. baiklah.”

***

Yoona turun dari mobilnya. Malam ini supirnya, Choi Ahjussi mengantarnya ke sebuah rumah besar di samping taman kota, rumah Taemin. Ia berniat untuk minta maaf padanya malam ini juga dan memastikan bahwa Taemin baik-baik saja setelah hujan-hujanan sore tadi.

“Anda boleh pergi, Ahjussi. Jemput aku dua jam lagi. Gomawo,” Yoona membungkukkan badannya. Begitulah cara ia menghormati para pekerja di rumahnya.

“Baik, Nona muda,” Tuan Choi mengangguk. Kakinya segera menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan Yoona.

Annyeong haseyo, Taemin-ah!” Yoona mengetuk pintu.

Tak ada jawaban dari dalam rumah. Langkah kaki seorang pelayan pun tak terdengar.

“Taemin-ah, aku masuk!” Yoona memberanikan diri masuk ke dalam. Dugaanya benar, tak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Penasaran dengan apa yang terjadi, Yoona segera berlari menuju anak tangga, bergegas menuju ke kamar Taemin.

Kayu jati berwarna coklat yang menjadi pintu kamar Taemin tertutup rapat. Yoona terdiam sesaat. Ia menarik nafas pelan, menjernihkan pikiran dan tetap berpikir positif. Perlahan jemarinya bergerak meraih gagang pintu.

“Ya, Taemin-ah, ada apa denganmu?!” Yoona membuang usahanya untuk berpikir jernih. Ia bergegas menghampiri Taemin yang tergeletak di atas tempat tidur. Tubuh namja itu berkeringat. Dadanya bahkan terlihat naik turun dengan cepat.

Yoona menggenggam tangan Taemin sementara satu tangannya meraba keningnamja itu. “Omona, badanmu panas sekali!” Yoona meringis, ia mendesah kesal. Harusnya ia memang menolak pertolongan Taemin tadi sore. “Mana para pelayan? Dimana Ahjumma dan Ahjussi?

“Ada rapat besar hari ini, semuanya pergi,” desis Taemin. Kedua matanya masih terpejam.

Yoona membatin. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon supir Choi? Tidak, butuh setengah jam baginya untuk kemari. Menelepon ambulans? Ah.. entahlah!

Yoona bergegas menarik kedua tangan Taemin, menaikkan tubuh kurus namjaitu ke punggungnya.

Noona, apa yang kau lakukan?” Taemin terpaksa membuka kedua matanya yang berat begitu menyadari tindakan Yoona.

“Di dekat sini ada poliklinik, kan? Aku akan membawamu ke sana.” ucap Yoona. Kedua tangannya telah menyangga tubuh Taemin di punggungnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia tak sempat memikirkan cara lain dalam keadaan genting seperti ini.

Ne?” Taemin tak habis pikir dengan keputusan Yoona. Ia sudah cukup terkejut ketika Yoona mampu menggendongnya. Dan sekarang membawanya ke poliklinik? Apa dia bercanda?

“Pegangan yang kuat, aku akan berlari ke sana.” tegas Yoona.

Belum sempat Taemin membalas perkataan Yoona, Yoona telah berlari lebih dulu. Yeoja itu seolah lupa kalau ia sedang memiliki cedera pada pergelangan kakinya.

Yoona menyusuri trotoar jalanan secepat mungkin. Ia tak peduli dengan kumpulan mata yang menatapnya aneh. Ia juga tak menghiraukan tangannya yang mulai terasa kram akibat menopang tubuh Taemin yang cukup berat. Tulisan poliklinik sudah terlihat. Kira-kira 50 meter lagi. Ia harus cepat sampai di sana.

***

Taemin membuka matanya perlahan. Bulatan-bulatan kilauan cahaya membuat kedua alisnya mengernyit. Warna putih menyeruak ke balik kornea matanya. Ia mendesah pelan. kepalanya masih terasa berat seperti semalam.

“Kau sudah bangun, Sayang?” suara lembut keibuan menyapanya.

Umma,” Taemin berbisik. Ia menatap sekeliling. Ruang VIP tempat ia dirawat sama sekali bersih. Ia tak melihat tanda-tanda kehidupan selain dirinya dan sang ibu. “Mana Yoona Noona, Umma?”

“Pukul 3 pagi tadi dia pulang. Umma menyuruhnya jangan sampai bolos hari ini.”

“Ohh..,” Taemin menghela nafas sejenak. Bibirnya menyunggingkan senyum. benarkah Yoona yang semalam menggendongnya sampai kemari? Astaga, sebesar apa tenaga yeoja itu?

Tok, tok, tok, seseorang mengetuk pintu. Nyonya Lee bergegas membukakan pintu untuk penjenguk pertama Taemin hari ini. “Yoona-ya, kau datang lagi?”

Ne, aku membawakan sesuatu untuk Taemin.” Yoona tersenyum sopan.

“Baiklah, kalau begitu aku tinggalkan kalian berdua.” Nyonya Lee bergegas keluar. Membiarkan putra dan calon menantunya berbicara dengan leluasa.

Yoona terdiam sesaat ketika pandangannya beradu dengan Taemin. Ia ragu untuk memberikan apa yang ada dalam genggamannya kali ini.

“Kau bawa apa, Chagiya?” Taemin tersenyum nakal.

Ne?” Yoona terkejut. mendengar kata ‘chagiya’ dari bibir Taemin membuat semburat merah muncul dari kedua pipinya. “Err, aku membuatkan sup untukmu,”

Jincca? Ayo suapi aku!” seru Taemin bersemangat.

Yoona membuka kotak makanan berwarna kuning yang dibawanya dengan hati-hati. Asap mengepul begitu ia membukanya dengan sempurna. “Aku yang memasaknya sendiri. Maaf, jika tak sebanding dengan rasa masakan Sulli,”

“Kau bicara apa? Cepat suapi aku. Itu pasti enak.” ucap Taemin seraya membuka mulutnya lebar-lebar.

Yoona menyendok sup wortel yang ia buat dengan campuran sosis, daun bawang, dan ayam cincang perlahan. Menyuapkannya pada Taemin sambil tersenyum kecil. Tampak Taemin mengunyahnya tanpa menunjukkan ekspresi.

“Bagaimana? Hambar?” tanya Yoona memastikan.

“Kaldu ayamnya cukup terasa,” Taemin tersenyum. Suhu badannya yang masih tinggi membuat indera perasanya tak bisa merasakan masakan dengan sempurna.

“Maaf, untuk yang kemarin. Aku iri karena kau menyukai masakan Sulli, sementara aku yang merupakan tunanganmu bahkan belum bisa membuatkanmu masakan yang sederhana sekalipun.”

Taemin tertawa kecil. Ia menggenggam erat jemari Yoona. “Tak apa, aku tahu kau cemburu. Itu tandanya kau benar-benar menyukaiku. Oh ya, aku benar-benar takjub dengan tindakanmu semalam. Kau benar-benar gadis yang kuat.” ucap Taemin meyakinkan. “Ketahuilah, jika kau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah jalan kecil, tapi jalan setapak yang membawa orang menuju mata air.”

Sembuat merah kembali muncul dari kedua pipi Yoona. “Gomawo.”

Saranghae, Noona.”

Ne, nado saranghae..

***

Yoona menyusuri koridor sekolah dengan langkah pelan. Kali ini ia melakukannya dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Ia puas telah menjadi penolong bagi Taemin. Untuk tiga hari ke depan ia mungkin akan lebih bersabat dengan rumah sakit, sebelum Taemin diizinkan pulang. Pesan dari namja chingu-nya itu kembali mengiang-ngiang di telinganya. Ia mungkin baru menjadi jalan kecil. Namun suatu saat nanti ia berjanji akan menjadi jalan raya yang akan membuat Taemin lebih leluasa menemukan mata air yang dicarinya.

“Yoona Eonni,” seseorang memanggilnya dari belakang.

“Sulli?” kedua bola mata Yoona membulat. “Ada apa?”

“Ini, aku buatkan makan siang untukmu,” Sulli menyerahkan sebuah kotak ukuran sedang berwarna biru muda pada Yoona. “Terima kasih sudah menemukan catatan biologiku,”

Yoona menerima itu dengan ragu-ragu. Benarkah ini? “Jadi itu milikmu?”

“CS, C untuk Choi, S untuk Sulli,”

Yoona tertawa kecil. “Oh.. begitu rupanya. Gomawo, Sulli-ya,”

Sulli tersenyum kecil. Senyuman itu menambah setingkat kebahagiaan Yoona hari ini. Kini ia tahu, anak itu benar-benar tulus melakukannya sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk yang lain.

“Ngomong-ngomong, Sulli-ya, kau mau mengajariku memasak?”

Ne? Jinccayo? Tentu saja. Ayo kita belajar sama-sama,”

“Baiklah!”

***

Orang memiliki cara mereka masing-masing untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Mungkin salah satu diantaranya ada yang membuat kita begitu tersanjung atau bahkan membuat kita berbalik membenci orang tersebut. Jangan pernah berpikiran buruk terhadap orang yang gerak geriknya hanya kau lihat secara awam, karena mungkin merekalah yang sesungguhnya memiliki hati seorang malaikat yang akan membantumu menemukan kedewasaan yang sesungguhnya.

FIN 

The Silent Touch of Marriage – part 4

Tag

, , , , ,

JANGAN MENCURI, MENJIPLAK, MENG-COPY-PASTE ATAU MENGGANDAKAN FF INI TANPA SEIZIN AUTHOR!

JANGAN MENJADI PLAGIAT. HARGAI KARYA ORANG LAIN DAN BE CREATIVE!

 

The Silent Touch of Marriage – Part 4

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Beta reader: Tulasi Krisna Maharani

Main Cast:

  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum (Key)
  • Kim Yong Sang

Support cast:

  • Other SHINee members
  • Kim Hyunri
  • Tuan Lee
  • Nyonya Lee

Length: Sequel

Genre: Family, friendship, romance, sad

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Ikhlas, apa makna kata itu dalam pikiranmu?

Pernahkah kau merasakan ketakutan yang begitu besar?

Sampai-sampai ujung jari kakimu tak berani bergeser?

Atau pernahkah kau mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang mampu merubah cara pandangmu?

Aku pernah, dan hal itu membuatku bergidik ngeri

Takut akan bayang-bayang masa lalu, jalan di masa sekarang, dan cahaya di masa depan

Entah apa, semua terselubung misteri

Teka-teki yang harus kupecahkan dengan tanganku sendiri..

-Kim Hyora-

***

Hyora menutup pintu mobilnya dengan sempurna. Sesaat tangannya masih memegang gagang pintu, mencengkram benda itu kuat-kuat. Ada sebuah ketakutan di hatinya mengetahui kakinya kini telah berpijak pada rerumputan di pekarangan rumahnya. Dadanya terasa sesak, seolah paru-parunya tak mampu menyuplai oksigen dengan normal.

“Hyora-ya, akhirnya kau pulang juga.” suara lembut keibuan menyapanya. perlahan Hyora mengangkat kepalanya, menatap sosok yang beberapa bulan ini sempat hilang dari penglihatannya, sang ibu.

Ne, annyeong haseyo, Umma!” Hyora tersenyum. Kedua tangannya menyambut pelukan sang ibu hangat.

Jonghyun dan Yong Sang menyusul Hyora keluar dari mobil. Gerak-gerik keduanya hampir sama dengan yang ditunjukkan Hyora, agak canggung dan bingung menentukan sikap.

Yong Sang menarik nafas pelan. Ia masih belum bisa berpikir jernih, takut jika adu mulut antara ayah dan ibunya berlanjut.

Ya, kau sudah besar sekarang.” seseorang menyentuh pundak Yong Sang, membuat gadis kecil itu melirik ke pundak sebelah kanannya, tempat sang pemilik tangan menepuk bahunya.

Yong Sang mendongak perlahan. Senyumnya mengembang ketika tatapannya beradu dengan seorang pria berumur 20 tahun yang kerap menjadi penghiburnya. “Taemin Ahjussi!” ia menghambur ke pelukan Taemin, meremas kemeja namja itu erat-erat. Entah apa tujuan utamanya, yang pasti ia ingin melupakan sedikit beban pikirannya dan meminta kekuatan.

Ya, jangan panggil aku ahjussi. Umur kita kan hanya beda 15 tahun, jadi, kau harus panggil aku Oppa.” ucap Taemin sembari mencubit gemas hidung Yong Sang.

“Mana bisa begitu, kau kan namdongsaeng umma-ku?” Yong Sang berdalih. Ia meninju pundak Taemin, membuat namja itu berpura-pura kesakitan.

Terlepas dari Yong Sang dan Hyora yang telah berhasil menemukan peran mereka, Jonghyun masih berdiri di samping mobil. Pikirannya kacau, bahkan melangkahkan kakinya pun ia tak berani. Ia mungkin saja akan melakukan kesalahan, tapi setidaknya ia telah memutuskan bagaimana ia harus bertindak sekarang.

Appa, Umma, Taemin-ah, maaf menunggu lama. Ayo, masuk ke dalam!” Jonghyun mengeluarkan kunci rumah dari saku celananya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Ia berusaha berjalan tegak menuju ke pintu rumah meski kedua kakinya masih terasa berat.

***

Umma bawakan kimchi[1] untuk kalian,” ucap Nyonya Lee sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan. “Selain itu juga ada galbi[2], gamjatang[3], janchi guksu[4], ramyeon[5], ahh.., ada takoyaki[6] juga. Itu kesukaan Jonghyun, kan?”

Ne,” jawab Hyora pendek. Mendengar nama Jonghyun membuatnya menghentikan kegiatannya−membersihkan meja makan−sebentar. Benar, Jonghyun memang suka dengan Takoyaki sejak kecil. Katanya makanan khas jepang itu sangat empuk di lidah.

Ya, jangan senyum-senyum seperti itu.” Nyonya Lee membuyarkan lamunan Hyora. Ia meletakkan semangkuk besar ramyeon di tengah-tengah meja lalu memutar tubuhnya menghadap Hyora. “Ayo panggil yang lain, sudah hampir pukul 8, kita akan segera makan malam.”

Ne,” Hyora mengangguk lalu berlalu memanggil penghuni rumah lain.

Nyonya Lee memandang punggung putrinya yang berlalu meninggalkan dapur. Kedua alisnya mengernyit, tingkah Hyora yang menjadi lebih pendiam dan penurut terasa janggal. Ada apa dengannya? Apakah dia bermasalah lagi dengan Jonghyun?

Belum sempat Nyonya Lee meneruskan kegiatan menebaknya, sosok Yong Sang menyembul dari dari arah pintu. Kaus merah muda yang dikenakannya membuat gadis kecil itu nampak begitu ceria.

“Wahh, Halmeoni membawa banyak makanan?” kedua mata Yong Sang nampak berbinar. Ia segera duduk manis di depan panggangan galbi.

Kepolosan Yong Sang membuat Nyonya Lee tertawa kecil. “Itu agar kau cepat besar, Sayang!” paparnya sembari mengusap puncak kepala Yong Sang lembut.

Yang lain menyusul tak lama setelah kedatangan Yong Sang. Semuanya duduk dengan tertib di tempat duduk mereka masing-masing. Dipimpin Tuan Lee, acara makan malam dimulai. Suasana hening tercipta. Untuk beberapa saat terkesan semuanya hanya menerapkan tata karma tak boleh bicara ketika makan, namun kemudian Tuan Lee menangkap suatu keanehan pada tingkah 2 makhluk di sampingnya, Jonghyun dan Hyora. Hyora lebih banyak menyuap ramennya sambil menunduk, sementara Jonghyun lebih banyak memainkan saus takoyaki-nya. Hanya tiga butir yang masuk ke mulutnya sejak tadi. Apakah ada yang salah dengan rasa masakan itu atau ada masalah dengan perut Jonghyun?

“Jonghyun Hyung kenapa memainkan makananmu seperti itu, kau kenyang? Berikan saja padaku kalau begitu.” Taemin rupanya menyadari tingkah laku Jonghyun. Semua mata tertuju padanya tak terkecuali Hyora.

Ne?” Jonghyun terperanjat. Ia tak mendengar apa yang diucapkan Taemin barusan. Ia bahkan baru sadar kalau dirinya sedang diperhatikan. Aish, benar-benar sulit berpura-pura.

“Apa rasa Takoyaki-nya tidak enak?” tanya Nyonya Lee, kedua alis wanita itu mengernyit.

“Ahh.., Aniyo.., ini enak sekali, Umma.” Jonghyun buru-buru melahap sisatakoyaki di piring datarnya. Sesaat tatapannya beradu dengan Hyora. Dadanya kembali terasa panas. Emosinya belum terkontrol dengan sempurna. Ditambah lagi Hyora yang menghujaninya dengan tatapan bersalah membuatnya menjadi muak.

Tuan Lee semakin menaruh kecurigaan dengan kelakuan menantu dan putrinya. Satu lagi alasan yang membuatnya bertambah kuat, saat ia mengalihkan pandangannya pada Yong Sang, mimik gadis kecil itu telah berubah, tak lagi menunjukkan selera makan.

***

Taemin menghampiri Jonghyun di teras belakang rumah. Namja itu terlihat berantakan di matanya. Seperti pengangguran. Siapa pun tak akan percaya dia seorang dokter yang telah memiliki seorang putri.

“Ada masalah, Hyung?” Taemin menghenyakkan tubuhnya di samping Jonghyun, memutar sedikit kepalanya menatap namja itu.

Jonghyun melirik Taemin sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Ia tahu dirinya tak perlu menjawab pertanyaan Taemin. Ia yakin Taemin mengetahui jawabannya melebihi perkiraannya.

Taemin menghela nafas pelan. Ia menunduk sambil memainkan buku-buku jarinya. “Kau tahu, barusan Yong Sang bertanya padaku, apa itu syncope[7]? Darimana dia belajar istilah kesehatan seperti itu?”

Jonghyun tersenyum tipis. Yong Sang memang benar-benar calon penerusnya. “Dari siapa lagi dia mendengarnya kalau bukan dari Taeyeon? Kau tahu kan aku sering menitipkannya pada Taeyeon jika aku mengajaknya ke rumah sakit? Err, kau bilang apa padanya?”

“Pingsan, tapi hanya sebentar, setelah itu akan sadar kembali. Aku tidak mungkin memberikan penjelasan lain padanya.” ujar Taemin. Sebagai mahasiwa kedokteran semester 4, ia terlihat bangga bisa membagi ilmunya pada bocah yang baru berumur 5 tahun.

“Kau benar.” Jonghyun menyandarkan punggungnya pada tembok bercat putih di sebelah kanannya. Kepalanya mendongak ke atas, membiarkan angin malam menyusup di sela-sela lehernya. Dadanya masih terasa panas. Jika mengingat kejadian di depan perusahaan Kibum lagi, rasanya mau meledak.

“Ada masalah apa kali ini, Hyung? Dengan Hyora Noona, Kibum Hyung atau keduanya?”

Mollayo, kurasa keduanya.” kedua kelopak mata Jonghyun terpejam. Ia berusaha mendinginkan kepalanya dengan mencoba tak memikirkan apapun.

“Kalian memang lucu,” komentar Taemin jujur. Ia memang merasa geli dengan perkara cinta segitiga antara Jonghyun, Hyora, dan, Kibum yang telah berlangsung selama belasan tahun.

“Diamlah, komentarmu sama sekali tak membantu.” dengus Jonghyun. Perlahan pikirannya mulai jernih meski emosinya masih tersisa.

“Di sini kalian rupanya,” Tuan Lee ikut bergabung. Kedatangannya membuat Jonghyun segera membuka mata dan segera tersenyum simpul. “Taemin-ah,bisa kau tinggalkan kami sebentar? Ada hal yang ingin kubicarakan empat mata dengan Jonghyun.”

Ne, baiklah, Appa.” Taemin bangkit dari tempat duduknya. Ia segera meninggalkan kedua orang itu. Mungkin Appa-nya bisa memberikan saran atau sekedar nasehat untuk menenangkan pikiran Jonghyun.

Jonghyun kembali duduk dengan tegak. Tubuhnya sedikit menegang. Selain bersikap sopan di depan mertuanya, ia juga memiliki perkiraan bahwa Tuan Lee mengetahui sesuatu.

“Kau pasti tahu kedatanganku kemari, bukan?” tanya Tuan Lee sembari tersenyum kecil. Ia tahu Jonghyun memiliki kecerdasan yang tinggi, dalam membaca sikap orang pun tentunya ia memiliki kemampuan yang sama.

Ne, Appa,” Jonghyun mengangguk. Kesepuluh jarinya mulai saling bergesekan, bingung, ragu, dan gelisah.

“Kau ada masalah lagi dengan Hyora?”

“Ne,” jawab Jonghyun, hampir berbisik. Angin yang menerpa wajahnya membuat lidahnya kelu.

“Apa ini menyangkut Kibum juga?”

Ne,” sekali lagi ia mengangguk.

Tuan Lee tertawa kecil. Bukan meremehkan Jonghyun, hanya saja melihat laki-laki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu tiba-tiba down seperti ini terlihat lucu. “Kenapa wajahmu seperti orang akan menyerah seperti itu?”

Ne?” Jonghyun menatap Tuan Lee bingung. Apakah wajahnya seburuk itu sekarang?

“Jangan katakan kau mulai putus asa memperjuangkan Hyora?” Tuan Lee menepuk pundak Jonghyun. Ia Menatap kedua bola mata Jonghyun lekat-lekat, membuat sebuah persepsi, apakah namja itu masih punya suatu keberanian atau malah gugur di sini?

Sebuah getaran menjalar masuk ke tubuh Jonghyun melalui sentuhan Tuan Lee. Apa ia baru saja ditantang? ‘Ya’ bukanlah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tuan Lee. Benar-benar tidak tepat. Jonghyun berani bertaruh bahwa dirinya belum menyerah. Sementara ‘tidak’ masih menjadi sebuah tanda tanya besar dalam pikirannya. Apakah dia bisa menjalani tantangan yang lebih berat sementara mengahadapi tantangan seperti ini saja sudah membuatnya sedemikian frustasi?

Tuan Lee menarik nafas panjang. Ia tak tahu bisa masuk sejauh mana. Urusan Jonghyun dan Hyora diluar tanggungjawabnya. Ia tak berhak lagi mencampuri urusan keturunannya yang sudah memiliki jalan hidupnya sendiri, namun di sisi lain ia tak mungkin membiarkan anak dan menantunya terjerumus ke dalam lubang yang tak memiliki dasar. Ia harus melakukan sesuatu.

“Kau tahu mengapa dulu aku memilihmu sebagai pasangan hidup Hyora?” tanya Tuan Lee, membuat kedua alis Jonghyun mengernyit.

“Karena kerja sama bisnis dengan Appa-ku? Atau karena agar perusahaan kita tak tersaingi oleh perusahaan Kibum?” selidik Jonghyun memastikan. Nada bicaranya datar, namun mengandung sebuah sindiran.

“Kedua jawabanmu benar.” aku Tuan Lee jujur. “Namun, ketahuilah, kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk menjaga Hyora. Kau memiliki suatu hal yang tak dimiliki Kibum. Seandainya Hyora memang belum bisa mencintaimu, kira-kira hal ajaib apa yang kau miliki sehingga dia betah tinggal bersamamu selama enam tahun ini?”

Hal ajaib? Jonghyun terdiam. Kedua matanya membulat. Ia hampir tak berpikir ke sana. Apakah Hyora terpaksa? Ia rasa tidak. “Hh…, mollayo, Appa.”

“Kau akan menemukan jawabannya nanti.” Tuan Lee tersenyum bijak. “Maafkan aku telah memberi izin bagi Hyora untuk bekerja di perusahaan Kibum. Dia yang seharusnya membantu Jinki diperusahaan malah aku kirim ke perusahaan pesaing. Dan alasannya semata-mata hanya membiarkan Hyora bekerja di tempat impiannya dan membiarkannya memiliki kesempatan untuk mengenang Kibum.”

Ne, aku tahu itu, Appa.” terkadang Jonghyun merasa itu bukanlah alasan yang tepat. Bukankah membiarkan Hyora bekerja di perusahaan Kibum sama saja dengan mengirimkan mata-mata? Atau, bukankah mempekerjakan Hyora di sana akan membuat perasaannya makin runyam dengan Kibum? Bukan, itu sama sekali bukan sebuah keputusan yang masuk akal. 

“Sudah malam, ayo masuk. Besok kau bekerja, bukan?” Tuan Lee menepuk pundak Jonghyun lagi, tak mau membiarkan namja itu bergelut dengan pikirannya lama-lama. “Oh ya, untuk menemukan jawaban pertanyaanku tadi, berhubunganlah dengan Hyora malam ini, barangkali kau akan tahu.”

Ne?”

***

Taemin mengusap puncak kepala Yong Sang lembut. Gadis kecil itu telah berpetualang dalam fantasi mimpinya. Wajahnya terlihat damai. Malang, anak itu tumbuh dengan cinta ayah dan ibu yang masih egois dengan perasaanya sendiri.

Taemin memutar bola matanya ke sudut tempat tidur, tempat di mana Hyora berkutat menyisir rambutnya. “Noona, boleh kita bicara sebentar?”

Hyora memutar tubuhnya. “Ada apa? katakan saja,”

Taemin bangkit, ia mengambil posisi duduk di samping Hyora. “Ada masalah cinta segitiga lagi antara kau, Jonghyun Hyung, dan Kibum Hyung?”

Hyora terdiam. Ia menghela nafas panjang. Rasanya terlalu berat untuk menjawab. Ia bahkan tak punya keberanian untuk sekedar menatap Taemin. “Kenapa kau tanyakan itu?”

“Barusan aku menemui Jonghyun Hyung. Dia terlihat kacau. Separah itukah pertengkaran kalian?” tanya Taemin, terdengar prihatin.

“Itu salahku,” bisik Hyora. Ia mulai menggesekkan ujung telunjuk tangan kanannya paja gigi sisir merah jambu yang dipegangnya. “Entah yang keberapa kalinya ia marah karena hal yang sama. Namun, baru kali ia meluapkan emosinya dalam bentuk tindakan.”

“Apa yang kau rasakan setelah melihatnya marah seperti itu?” Taemin membuat sebuah pancingan. Ia rasa dirinya bisa sedikit membantu dalam meluruskan persoalan ini.

“Aku takut!” Hyora mencengkram sisir merah jambu di tangannya kuat-kuat. Buku-buku jarinya mulai memutih sementara tubuhnya bergetar perlahan. “Rasanya ingin menangis. Aku benar-benar merasa bersalah, Taemin-ah.”

“Apa kau sudah memiliki perasaan padanya?” pancingan Taemin berhasil menggaet umpannya. Hyora menatapnya dengan kedua mata membulat.

“Err.., a. aku..,” apa jawaban yang harus ia berikan? Ia benar-benar tak tahu.

Taemin mendesah, ia menghembuskan nafas panjang. “Kalau begitu kuberi pertanyaan yang lebih mudah, mengapa kau bisa betah tinggal selama 6 tahun bersama Jonghyun Hyung?”

Benar, apa yang membuatnya bertahan selama 6 tahun ini? Oh, itu pertanyaan yang lebih sulit dari pertanyaan pertama barusan. Jika dipertanyaan pertama ia hanya perlu menjawab ya dan tidak, lalu dipertanyaan ini, apa alasan yang bisa dia berikan?

Hyora menggeleng. Ia tak berani memberikan jawaban, benar-benar tak berani.

***

Hyora membuka pintu kamar perlahan. Kedatangannya disambut tatap dingin Jonghyun yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Ia menghela nafas, mengumpulkan keberanian sambil mendorong gagang pintu, menutupnya kembali.

Umma, Appa, dan Taemin baru saja pulang.” tukas Hyora, berusaha memperbaiki hawa dingin diantara mereka.

Jonghyun belum menjawab. Ia memainkan jarinya di udara. Memetik udara kosong yag tujuannya entah apa.

Hyora merebahkan tubuhnya di samping Jonghyun. Ia menatap wajah Jonghyun. Mimiknya sedikit berubah, tak sekeras sore tadi. “Mianhae, Oppa.” lirihnya.

“Berhenti meminta maaf!” ucap Jonghyun, terdengar tegas. Tangan kanannya yang sejak tadi sibuk bermain dengan udara kini ia sembunyikan di belakang kepalanya. Sebenarnya ia ingin meletakkannya di kedua telinganya. Namun, apakah dengan menutup telinga masalah ini akan selesai?

“Yang kau lihat di depan perusahaan tadi hanya salah paham. Key hanya ingin mengantarku pulang karena saat itu ia melihat aku sedang kelelahan.” tutur Hyora, berusaha meyakinkan Jonghyun. “Jika kau ingin marah, marahlah padaku sekarang,”

Marah? Oh tentu, ia ingin melakukannya sejak sore tadi. Namun, tipe marah seperti apa yang bisa iia lakukan? Memukul, menampar, mencaci-maki? Tidak, semua itu tak ada dalam kamusnya dalam tata krama untuk perempuan.

“Kenapa kau ingin aku marah? Haruskah aku melakukan itu padamu?” ekor mata Jonghyun melirik Hyora yang memberikan tatapan penuh tanda tanya padanya.

Hyora terhenyak. Respon macam apa itu? Ia sama sekali benci jika Jonghyun memberinya pilihan yang memutar seperti ini.

“Yong Sang bisa terbangun jika aku berteriak,” ujar Jonghyun. “Bolehkah aku marah dengan suara yang lebih kecil?”

Ne?” tanda tanya di kepala Hyora semakin besar.

Jonghyun memutar tubuhnya, memposisikannya telungkup di samping Hyora. Ia menatap Hyora dalam. Kedua mata tajamnya menyipit, memberi pesan bahwa sebentar lagi permainan dimulai.

Tangan kiri Jonghyun bergerak, mengusap pipi Hyora lembut. Bibirnya yang tersenyum tipis terbuka perlahan, memberikan kesan seduktif di raut wajahnya.

Deg, Hyora semakin tak mengerti. Sikap Jonghyun ibarat iblis. Terlalu susah ditebak maksud dan tujuan sebenarnya. Jika ini memang ungkapan kemarahan Jonghyun ia harus menerimanya. Ia salah, dan Jonghyun berhak memberinya hukuman.

Kedua tangan Hyora turut bergerak, melingkar di leher Jonghyun. Kedua matanya terpejam, bersiap menerima apapun tindakan Jonghyun padanya. Bibir Jonghyun menyapu bibirnya perlahan. Sensasi aliran listrik mengalir lagi ditubuhnya, menunjukkan kalau tubuhnya menerima tindakan Jonghyun.

Perlahan Jonghyun membasahi bibir Hyora dengan salivanya. Kedua tangannya mengunci rapat gerak wajah Hyora agar tak berpindah. Lidahnya mengetuk-ngetuk celah bibir Hyora yang masih terkunci rapat. Hyora menuruti keinginan suaminya. Ia sedikit kedua bibirnya, memberi celah lidah Jonghyun untuk masuk.

Hyora menggelinjang ketika lidah Jonghyun membelit lidahnya. Jari-jarinya yang mulai kehilangan kendali menyusup di balik rambut Jonghyun, meremasnya tak karuan.

“Akh..,” tak sengaja Hyora mengeluakan desahannya ketika Jonghyun menggigit bibirnya.

“Jangan bersuara, Yong Sang bisa bangun,” Jonghyun meletakkan telunjuknya di depan bibir Hyora.

Hyora mengangguk pelan, pasrah. Tatapan Jonghyun menghanyutkannya. Tak bisa ia ingkari, ia ingin Jonghyun melakukan hal yang lebih.

Jonghyun kembali membungkam bibir Hyora. Tangan kanannya menyusup dibalik kaos ketat berwana coklat yang dikenakan Hyora. Ia mengelus perut datar Hyora, menikmati sensasi gesekan telapak tangannya dengan kulit mulus yeojaitu.

Hyora hampir tak bisa menahan desahannya. Sentuhan Jonghyun menerbangkan ribuan kupu-kupu di perutnya, membuat aliran darahnya semakin deras menuju ke bagian bawah perutnya.

Jonghyun menghimpit tubuh Hyora ke ujung tempat tidur. Tubuhnya menegang. Tidak, ia tak boleh terbawa nafsu dalah permainan ini. Ia hanya ingin mencari tahu apa gerangan jawaban dari pertanyaan Tuan Lee tentang kelebihan yang dimilikinya sehingga bisa mempertahankan Hyora. Sampai sejauh ini ia belum menemukan jawaban, itu berarti ia harus meneruskannya.

Jonghyun menggerakkan tangannya yang masih terselip di balik kaus Hyora turun. Perlahan berusaha menerobos hot pants hitam yang dikenakan Hyora.

Oppa, tunggu!” seketika itu Hyora berhenti bergerak. Tangannya beralih mencengkram tangan Jonghyun yang hendak mencapai daerah kewanitannya. “A.. aku belum siap untuk itu.”

Jonghyun turut berhenti. Dengan nafas terengah ditatapnya wajah Hyora yang kini menunjukkan sebuah ketakutan. Ia tak berpura-pura, ia benar-benar belum siap untuk melakukannya lebih jauh dengan perasaan yang sempurna.

Keduanya mengambil posisi duduk. Tak lagi meneruskan permainan mereka.

Mianhae, Oppa.” bisik Hyora, tubuhnya bergetar. Dugaannya salah. Ia masih belum bisa menerima Jonghyun dan membiarkannya mengeksplorasi tubuhnya lebih jauh.

Gwenchana,” balas Jonghyun, turut berbisik. Ia mengusap puncak kepala Hyora lembut. “Tak apa jika kau memang belum siap, kita bisa mecobanya lain waktu.”

Hyora menangkap ketulusan pada sinar mata Jonghyun yang ditimpa cahaya lampu kamar. Ya, inilah yang membuatnya mampu bertahan selama 6 tahun bersama Jonghyun. Namja itu tak pernah memaksa perasaannya. Jonghyun selalu ikhlas menerima seberapa pun kesiapan dirinya dalam menjalani sesuatu termasuk dalam berhubungan seksual.

“Ya sudah, ayo tidur!” Jonghyun merebahkan tubuhnya. Disusul Hyora yang berbaring di sebelahnya. “Sudah cukup aku marah sampai di situ.”

Hyora memejamkan matanya. Apakah ada orang marah seperti itu? Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum kecil.

Jonghyun menatap langit-langit kamar. Sama halnya dengan Hyora, ia sendiri menemukan jawaban atas pertanyaan ayah mertuanya. Ia rasa dirinya punya kelebihan dalam hal kesabaran. Dan kali ini ia tak kesal meski gagal bercinta dengan Hyora. Emosinya tentang kejadian di perusahaan Kibum sore tadi juga hampir teredam dengan sempurna. Entah ini yang dinamakan bodoh atau bijaksana, ia tak tahu. Yang pasti ia menikmatinya dan nyaman dengan perasaan ini. Baik, cukup untuk hari ini. Tenaganya hampir terkuras habis untuk menangani pasien, marah, berpura-pura, dan berbubungan seks. Ia harus menutupnya, kembali ke peraduan malam dan bersiap untuk tantangan esok hari.

TBC


[1] makanan fermentasi yang berasal dari sayuran, terutama sawi, lobak, dan ketimun.

[2] daging iga babi atau sapi yang dipanggang dengan arang dan dibumbui.

[3] sup pedas tulang babi dengan sayuran dan kentang.

[4] mie yang disajikan dengan rumput laut, kimchi, telur, dan sayuran.

[5] mie ramen khas korea

[6] makanan asal daerah Sankai di Jepang, berbentuk bola-bola kecil dengan diameter 3-5cm yang dibuat dari adonan tepung terigu diisi potongan gurita di dalamnya.

[7] suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak, dan biasanya sementara, yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.

Behind His Eyes (The Silent Touch of Marriage Side Story)

Tag

, , , ,

JANGAN MENCURI, MENJIPLAK, MENG-COPY-PASTE ATAU MENGGANDAKAN FF INI TANPA SEIZIN AUTHOR!

JANGAN MENJADI PLAGIAT. HARGAI KARYA ORANG LAIN DAN BE CREATIVE!

 

Behind His Eyes

(The Silent Touch of Marriage Side Story)

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Main Cast:

  • Choi Minho (Covered by Jung Yoogeun (baby SHINee))
  • Kim Yong Sang (Covered by Lauren (baby MBLAQ))
  • Victoria Song (F(X))

Support cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyora
  • Nyonya Choi

Length: Oneshot

Genre: Fantasy, friendship

Rating: G

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are God’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

Kemampuan Minho di sini sebenarnya terinspirasi dari kelebihan temanku. Siapa dia? Err.., rahasia, privasi masalahnya. :D jadi aku buat jalan cerita di sini sesuai pengelihatan sama pengetahuannya dia juga. :D

Bagi yang belum baca TSTM harap baca dulu biar nyambung sama ceritanya :D Atau mungkin ada yang lupa sama jalan ceritanya bisa baca ulang, karena beberapa dialog berkaitan dengan part sebelumnya. :D

Satu lagi, di sini ada flashback yang cukup panjang. Dan flashbacknya cuma sekali. Jadi, Bacanya hati-hati ya biar nggak bingung. :D

So, happy reading!

***

Hari ini ia memulai pagi harinya dengan berjalan seorang diri di sepanjang koridor. Wajahnya tertunduk. Dengan satu alasan yang kuat, ia tak ingin menyilaukan matanya dengan anak-anak berkarakter yang khas dengan warna di sekitar tubuhnya. Tak aneh lagi memang, hanya saja itu terkadang mengganggu−mengganggu konsentrasi yang dikalahkan oleh rasa ingin tahunya.

Annyeong, Minho-ya!” seseorang menyapanya. Suara lembut itu kira-kira hanya berjarak bebrapa jengkal saja darinya.

Minho mengangkat kepalanya perlahan. Sorot matanya membulat ketika melihat seorang wanita dewasa yang barusan menyapanya sedemikian lembut. Cerah, kata itu menghujani pikirannya.

Annyeong haseyo, Victoria Seonsaengnim!” Minho membalas sapaan itu, sopan. Tubuhnya membungkuk hingga posisi kepalanya sejajar dengan pantatnya.

“Kenapa datang pagi sekali?” tanya Victoria sekedar sebagai ice breaking.Melihat Minho datang satu jam sebelum pelajaran dimulai bukan hal aneh lagi. Bocah itu punya suatu alasan dan ia tahu benar apa itu.

Umma sibuk hari ini.” aku Minho polos. Jawaban yang selalu ia berikan. Bukan suatu kebenaran yang absolut, tapi suatu kebenaran yang layak diucapkan seseorang untuk melindungi privasinya.

“Bagaimana aku pagi ini, Minho-ya?” kali ini Victoria mengalihkan pembicaraan. Ia memang pihak yang dituntut lebih banyak bicara dalam kasus ini.

“Seperti biasa, cerah.” ucap Minho sembari memamerkan senyumnya. Jawaban yang ia berikan pun bukan sugesti atau bualan semata, melainkan berdasarkan pengelihatan istimewa yang terselip di balik kornea matanya.

Tak ada percakapan lagi. Keduanya berjalan menyusuri koridor dalam diam. Sesekali Victoria melirik makhluk kecil yang puncak kepalanya tak lebih dari  pinggangnya. Anak itu, bocah yang menarik. Mungkin karakter sejenisnya tak akan dijumpai lebih dari lima kali dalam hidup ini.

-Flashback-

Victoria merapikan ujung rambutnya. Ia menutup pintu toilet perlahan. Ia siap untuk mengajar hari ini. Berhadapan dengan bocah 5 tahun membuatnya harus tahu cara tersenyum dengan tulus dan mungkin terus menerus. Sekilas ia tertarik melihat ruang terkunci di depan toilet yang dimasukinya, usang dan tampak tua. Naluri keingintahuannya mendorong kedua kakinya untuk mendekat. Ia memang sudah bekerja di sekolah ini selama 2 tahun, namun baru kali ini ia tertarik dengan pintu bergaris merah yang selalu terkunci itu

“Jangan, Seonsaengnim!” sebuah hardikan kecil mengejutkannya.

Spontan ia berhenti. Kedua bola matanya memutar, melirik sang pemilik suara, bocah laki-laki dengan ransel berwarna hitam di punggungnya.

“Jangan masuk ke sana, berbahaya!” ucap anak itu lagi, sedikit menekan nada suaranya, seolah menahan suatu ketakutan.

Victoria terdiam sesaat, mencerna kata-kata bocah laki-laki−yang merupakan salah satu anak didiknya−Choi Minho. Apa gerangan yang membuat anak itu melarangnya? Lalu, pantaskah dia menggubris perkataan seorang bocah yang bahkan mungkin belum mengenal siapa dirinya? Terlepas dari itu, ia masih belum bisa memberikan jawaban, namun tubuhnya lebih dulu memberikan sebuah respon non verbal−mundur dengan teratur dari tempat perkara.

Sekali lagi Victoria menatap anak laki-laki yang balas menatapnya bak seorang calon korban. Ia bisa menangkap ketakutan yang mengisyaratkan bahwa anak itu tak sekedar berpura-pura.

Victoria mendekati Minho, masih dengan ketertarikan dan rasa penasarannya. Ia menyentuh pundak anak itu. Getaran menjalar perlahan, menyusup dari balik saraf-saraf di ujung jarinya. Victoria mengernyitkan alisnya. Minho seolah mengetahui sesuatu. Bola mata anak itu masih tertuju pada pintu bergaris merah yang hendak dimasuki Victoria barusan.

 “Ada apa, Minho-ya?” tanya Victoria, memastikan keadaan anak itu.

Minho masih terdiam. Belum berpindah posisi atau bergeser sedikitpun dari tempatnya semula.

Victoria mengikuti gerak pandang Minho. Tetap dengan hal yang tidak bisa ia artikan, ia sama sekali tak paham dengan tatapan makhluk kecil di hadapannya.

“Ada yang membuatmu takut?” Victoria melanjutkan pertanyaannya yang belum mendapatkan respon.

“Ayo ke kelas, Seonsaengnim!” akhirnya Minho mengeluarkan suara, memberikan jawaban yang sama sekali melenceng dari yang diinginkan Victoria. Ia berbalik, melangkah menuju ke ruang kelasnya.

Anak yang menarik, Victoria membatin. Ia mulai menapakkan kakinya, mengikuti bocah itu. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Apa hal yang patut ia pikirkan saat ini? Anak yang istimewa atau aneh? Ya, dua-duanya. Apakah dia punya sejenis sihir atau semacamnya yang bisa membuat orang percaya dengan ucapannya? Entah apa jawabannya, namun Victoria telah membuktikannya bahwa anak itu punya suatu kelebihan.

***

“Kenapa kau makan sendirian?” Victoria menghampiri Minho yang asik melahap bekal makan siang di mejanya. “Bukankah biasanya kau bersama Yong Sang, mana dia?” lanjutnya.

“Dia ke halaman belakang, Seonsaengnim. Katanya sedang tidak mau diganggu.” jawab Minho setelah menyendok blackpapper chicken-nya. Nada bicaranya polos, namun cara pengungkapannya terdengar berbeda di telinga Victoria.

“Merah padam..,” Minho berbisik dan sukses membuat Victoria menajamkan indera pendengarannya.

 “Apa maksudmu?” Victoria makin tak mengerti.

“Jika aku katakan pun anda tak akan percaya,” Minho mendesah. Bodoh sekali ia bisa kelepasan bicara seperti tadi.

Sebelah alis Victoria terangkat. Permainan apa yang menyeretnya kali ini? Benar-benar menarik, membuatnya lupa dengan profesinya sebagai seorang guru dan beralih menekuni ucapan anak TK yang seolah lebih pasti dari keputusan seorang hakim.

“Katakan saja jika itu memang mengganggumu, akan kudengarkan.” ucap Victoria meyakinkan. Ia mungkin tak tahu bisa masuk sejauh mana, namun setidaknya ia bisa membuat Minho membagi sedikit beban pikirannya.

“Warna aura Yong Sang merah padam. Dia sedang marah. Aku tak tahu pastinya, hanya saja suasana hatinya benar-benar buruk saat ini.” papar Minho datar. Wajahnya masih menunduk. Ia berhenti menyendok makanannya, tak berselera lagi.

Victoria menelan ludahnya, terasa pekat. Anak ini, jika ia bercanda ekspresi wajahnya tak seharusnya seperti itu. Gerak geriknya tak seharusnya tenang. Sepintar-pintarnya seorang anak TK merangkai kebohongan, belum pernah ia melihat yang seperti ini. Lalu untuk Yong Sang, anak itu memang terkadang jauh dari kata ceria. Ia terkenal cerdas, namun pergaulannya hanya sebatas dengan anak-anak yang duduk lima jengkal dari bangkunya. Anak itu memiliki sebuah masalah dengan keluarganya, tepatnya dengan sang ibu. Seingat Victoria, ia belum pernah bertemu dengan Ibu anak itu semenjak ia mendaftar sebagai murid di sini.

“Hei, daritadi kita bicara soal warna. Lalu, warnaku seperti apa?” Victoria mengalihkan pembicaraan, membuat Minho menatapnya dengan sepasang mata bulatnya.

“Cerah..,” ucap Minho pendek. Kedua alisnya kini mengernyit. Apa dia sedang diajak bercanda, atau malah sedang diuji?

Jinccayo?” Victoria tersenyum lalu melanjutkan, “Jadi kau bisa melihat warna semua orang?”

Minho menggeleng. “Hanya orang-orang berkarakter saja yang memiliki itu. Aku pun belum tahu jelasnya, mungkin jika diibaratkan sebuah novel, orang-orang biasa adalah novel percintaan yang jarang mengundang penasaran kecuali penulisnya menghadirkan nuansa berbeda sementara orang-orang berkarakter ibarat novel fantasi yang sulit ditebak jalan ceritanya dan menarik minat pembaca.” pengakuan yang jujur. Pembicaraan ini mulai terasa nyaman untuknya. Karakter cerah seperti Victoria memang teman yang pas untuk diajak bicara. Dan wanita itu adalah orang ketiga yang tak menganggapnya membual setelah ayah dan ibunya.

Victoria tersenyum. Sama halnya dengan Minho, ia menikmati pembicaraan ini. “Ayo ceritakan tentang warna itu, aku tertarik mendengarnya.” celetuknya antusias. Keingintahuannya cukup besar, terlebih lagi lawan bicaranya seperti karakter Conan dalam manga.

Minho menimbang-nimbang sejenak. Awalnya ia tak ingin membuka diri lebih jauh, namun warna cerah Victoria telah memikatnya lebih jauh. Ia kalah telak. “Orang berkarakter dengan warna cerah umumnya disenangi banyak orang,” Minho memulai ceritanya, “seandainya Seonsaengnim senang melihat seseorang meskipun orang itu sedang marah, kemungkinan karakternya cerah. Orang yang berkarakter dengan warna hijau memiliki kepribadian yang tenang. Kontrol emosinya bagus dalam segala situasi. Lalu untuk warna merah…,” Minho berhenti, terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Kenapa berhenti?” kedua alis Victoria mengernyit. Apa yang salah dengan warna merah?

Minho menghela nafas sejenak. Ia mendesah pelan lalu berkata, “Mereka karakter pemberani dan pantang menyerah. Mereka punya suatu kekuatan yang terkadang sulit diduga. Pribadi mereka kuat, buruk dalam kontrol emosi, dan mudah berubah. Jika warna suasana hati mereka sedang baik, mereka bisa menyaingi orang-orang yang berkarakter cerah. Namun, jika suasana hati mereka sedang buruk, warna mereka akan berubah padam. Dan jika itu terjadi, jangan dekati mereka meski kita memiliki sebuah lelucon yang terkonyol sekalipun.” paparnya panjang lebar. Ia rasa cukup sekian. Selain ketiga warna itu masih banyak karakter lain, namun untuk saat ini pengalamannya baru sebatas itu.

Cerita yang menarik, pikir Victoria. “Lalu kau sendiri bagaimana?”

Minho meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Victoria lekat-lekat. “Apakah setelah mendengar penjelasan tadi anda percaya pada kata-kataku?”

Victoria mengangguk.

“Apakah setelah mendengar peringatanku di dekat toilet tadi ada sesuatu yang merasuk ke pikiran anda?”

 Sekali lagi Victoria mengangguk.

“Apakah gaya bicaraku terkesan dewasa seolah aku sudah berumur lebih dari 20 tahun?

Untuk ketiga kalinya Victoria mengangguk.

“Warnaku hijau, selain itu sepertinya tak perlu kukatakan. Mungkin Seonsaengnim sendiri sudah tahu apa jawabannya,” ujar Minho sambil tersenyum tipis. Kali ini mimik anak-anak terlihat di raut wajahnya meski cara bicara anak itu masih jauh melampaui kemampuan seorang bocah.

Benar, Victoria sudah menemukan jawabannya. Anak ini memang punya suatu kemampuan istimewa yang umum dikenal dengan ‘indigo’. Dan kelebihan utamanya ada pada kecerdasan dan kemampuan bicaranya yang memiliki aura khas dan kuat−yang membuat seseorang dengan mudah percaya dengan kata-katanya tanpa melihat mereka sedang bicara dengan sorang anak TK. Tidak, ada satu lagi, mata anak itu juga memiliki suatu keunikan.

“Hei, saat di toilet tadi sebenarnya apa yang aku lihat?” tanya Victoria, ingin melengkapi keingintahuannya.

Minho menggeleng. “Terkesan gelap. Kurasa penunggu sekolah ini ada di sana. Tidak baik jika kita mengusiknya.”

Victoria mengangguk. Sedikit menggali ingatannya tentang dunia spiritual, setiap sekolah memang memiliki cerita hantunya masing-masing. Jika ditelaah kembali, ada benarnya juga yang dikatakan Minho. Sebaiknya ia tak lagi mencari masalah.

-Flashback End-

***

Minho menyenderkan punggungnya pada bangku panjang di halaman belakang sekolah. Sesekali ekor matanya melirik pada makhluk berkuncir dua yang bungkam ibarat batu di sampingnya−Kim Yong Sang. Gadis itu masih tenggelam dalam trauma psikis yang dialaminya tadi pagi. Menyakitkan memang ketika melihat reaksi anak-anak yang menganggapnya tak memiliki seorang ibu.

“Sudahlah, Yong Sang-ah.” Minho menepuk pundak Yong Sang. Apa yang bisa ia lakukan kali ini? Ia sulit untuk merangkai kata-kata mengingat pemahaman Yong Sang menanggapi pembicaraan masih terlalu sederhana, tak sepertinya. Aura tubuh anak itu tidak sedang padam saat ini, melainkan berubah suram dan tertekan, itu artinya ia masih bisa diajak bicara meski dengan kata-kata yang agak rumit.

“Tadi aku sempat bicara dengan Umma-mu.” ucap Minho datar, membuat Yong Sang menoleh sedikit ke arahnya. Kedua matanya merah dan sembab. Entah berapa lama ia menangis sejak tadi.

“Apa yang kau katakan?” tanya Yong Sang parau, terdengar sangat sulit untuk mengeluarkan suaranya.

“Aku menceritakan semuanya. Bagaimana sejak awal anak-anak memandangmu sebagai anak yang tidak mempunyai ibu,” papar Minho, membuat Yong Sang kembali tertunduk. “Kau tahu, ibumu menangis setelah aku selesai bercerita.”

Jinccayo?” kali ini Yong Sang menatap Minho lekat-lekat, mencari-cari kebenaran di sorot matanya.

“Seburuk apapun kau menilai ibumu, dilubuk hatinya dia pasti sangat menyayangimu. Mungkin kalian hanya butuh waktu lebih lama untuk saling memahami,” jelas Minho, kembali dengan gaya bicara orang dewasanya.

Bibir bagian bawah Yong Sang kembali bergetar. Cairan bening mengalir lagi dari sudut matanya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Jujur, ia marah, sangat marah. Namun hati kecilnya sangat ingin untuk memeluk Hyora dan membiarkan wanita itu mendekapnya hangat.

“Jangan menangis lagi,” Minho menepuk pundak Yong Sang, lagi. Karakter gadis kecil itu sama sekali tak berbeda dengan Hyora. Ibu dan anak itu sama-sama memiliki kharakter berwarna merah yang diselimuti keangkuhannya masing-masing. Sangat berbeda dari Jonghyun yang berkarakter cerah dan hangat.

***

Langkah Minho terhenti ketika sepasang kaki menghadangnya. Cerah, kata itu memenuhi pikirannya. Perlahan ia mendongak. Kedua matanya membulat saat melihat pemilik sepasang kaki itu adalah seorang wanita yang kemarin dikenalnya kikuk dan sibuk menyalahkan dirinya sendiri, Kim Hyora. Yeoja itu tak sendiri, ia ditemani Jonghyun dan Yong Sang yang terlihat sibuk bercanda di sampingnya.

“Kau, Choi Minho, bukan?” tanya Hyora, sedikit ragu.

Ne. Annyeong haseyo!” Minho tersenyum, tak lupa menyapa Hyora sambil membungkuk hormat.

Annyeong haseyo!” Hyora membalasnya dengan anggukan kecil. Perubahan karakternya menunjukkan wanita itu sedang bahagia saat ini.

“Kau kenal Minho?” tanya Jonghyun polos, diikuti Yong Sang yang menatap Hyora dengan kedua mata membulat.

“Err, iya, kemarin kami sempat bertemu,” jawab Hyora kikuk.

Seorang yeoja mendekat ke arah mereka. Ia tampak kerepotan dengan ponsel, dan tas tangannya. Langkahnya terlihat agak terburu-buru. Wanita itu ummaMinho. Meski tergesa-gesa, namun raut wajahnya tetap terkesan anggun. Sekilas ia terkejut ketika pandangannya beradu dengan Hyora.

“Ah, kau umma-nya Yong Sang? Neomu yeppeo!” sapanya spontan, namun terdengar ramah.

Gomawo,” Hyora tersenyum kecil.

Di tengah tingkah Hyora yang masih canggung, sikap Jonghyun yang terus memamerkan senyumnya, dan kelakuan Yong Sang yang lincah, bocah kecil yang mencuri perhatian Hyora−Minho, tengah memperhatikan mereka. Ketiga makhluk berkarakter itu tampak cerah, seolah menemukan arti kata keluarga dalam hidup mereka. Di balik semua kesenjangan yang terjadi, ternyata mereka memiliki keharmonisan tersendiri. Mereka memiliki cara untuk menikmati hal istimewa meski itu mungkin tak bertahan lama.

***

Minho membuka gagang pintu mobilnya. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa agak kaku pada bantalan empuk di tempat duduknya. Di sampingnya, sang Ibu−Nyonya Choi−menatapnya tersenyum sambil memegang gagang stir.

“Kau lelah, Sayang?” tanya Nyonya Choi perhatian.

Ne, Umma. Aku benci matematika!” desahnya sambil memejamkan kedua matanya, menikmati suasana sejuk dari AC yang terpasang di sudut kiri mobilnya. “Oh ya, Yong Sang dan keluarganya..,”

“Ada apa dengan mereka? Kau lihat sesuatu?” tanya Nyonya Choi, mulai berkonsentrasi dengan pekerjaannya−menyetir.

Mollayo. Mereka unik, dan entah kenapa aku merasa mereka akan dihadapkan pada suatu persoalan yang besar nanti,” papar Minho. Alisnya mengerut meski kedua kelopak matanya masih terpejam dengan sempurna.

Nyonya Choi tertawa kecil. “Jangan terlalu dipikirkan. Jika memang seperti itu, biarkan mereka menjalaninya. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain dibalik itu semua. Yang pasti kau jangan terlalu banyak ikut campur. Ingat usiamu, Sayang.” jelas Nyonya Choi bijaksana. Ia mungkin tak punya kelebihan istimewa seperti Minho atau kharakter khusus layaknya orang-orang yang menarik perhatian putranya. Namun setidaknya ia bisa berperan di belakang layar dan mengawasi Minho agar tak melakukan hal yang masih jauh dari perannya sebagai anak-anak.

Minho membuka matanya perlahan. Bulatan-bulatan kiluan cahaya yang menembus kaca mobil membuat kedua kelopak matanya menyipit. Ia menghela nafas pelan, mencari-cari sebuah gagasan baru yang masih berwujud suatu angan yang berlum terbentuk dengan sempurna.

Lalu setelah ini, apa yang akan ia lakukan? Tubuhnya masih terlalu kecil untuk melangkah terlalu jauh. Sementara pikirannya masih terlalu dangkal untuk mengambil sebuah keputusan yang berarti. Lebih baik menjalaninya seperti kebanyakan orang dan menunggu hingga ada tugas yang memanggilnya.

-FIN-

Like A Panda? (The Silent Touch of Marriage Side Story)

Tag

, ,

JANGAN MENCURI, MENJIPLAK, MENG-COPY-PASTE ATAU MENGGANDAKAN FF INI TANPA SEIZIN AUTHOR!

JANGAN MENJADI PLAGIAT. HARGAI KARYA ORANG LAIN DAN BE CREATIVE!

 

Like A Panda?

(The Silent Touch of Marriage Side Story)

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Yong Sang (covered by Lauren (baby MBLAQ))

Support cast:

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki (Onew)
  • Kim Taeyeon (SNSD)

Length: Sequel

Genre: Family, humor (just a little bit), romance

Rating: G

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Jonghyun menatap layar laptopnya. Kedua kelopak matanya terasa sangat bersahabat−tak sabar ingin bertemu satu sama lain. Lingkar hitam mungkin terbentuk di bawah matanya, membuatnya tak jauh berbeda dari hewan berbulu hitam putih yang menggemari bambu, panda.

Jonghyun melirik jam weker bulat di atas mejanya. Jam bahkan belum melewati pukul 9 malam, namun matanya sudah tak bisa ia ajak berkompromi lagi. Ia mulai mengacak rambutnya, frustasi. Slide seminar tentang abortus yang dikerjakannya masih setengah jalan.

Aish, kenapa susah sekali merangkum materinya?” dengusnya, terdengar hampir menyerah. Jika ini bukan demi kebaikan para remaja yang hobbymelakukan sex bebas atau para yeoja yang hamil di luar nikah dan berniat melakukan aborsi, ia tak akan menggubrisnya.

“Masih mengerjakan materi seminar, Oppa?” Hyora muncul dari balik pintu dengan membawa segelas orange jus beralaskan nampan kayu. Yeoja itu tersenyum. Kedua tangannya Nampak bergetar. Oh, tentu saja, ia tak kalah letihnya dengan Jonghyun. Dan alasan mengapa tangannya bergetar bukan karena ia tak trampil membawa nampan, melainkan karena ngilu akibat memeriksa setumpuk pekerjaan bawahannya di kantor.

Hyora meletakkan nampan berwarna kecoklatan itu tepat di samping laptop Jonghyun. Ia menggenggam tangan Jonghyun yang terlihat kaku diatas keyboard−yang kebingungan mau mengetik apa.

 “Minumlah, kau perlu peyegaran,” saran Hyora lembut.

Jonghyun tertawa kecil. Ia meraih orange jus-nya lalu berkata, “Ne, Gomawo.”

Keduanya terdiam. Hyora mengambil alih laptop Jonghyun, menggerakkan kursor perlahan, membaca satu persatu ringkasan materi yang telah susah payah dikerucutkan suaminya dengan bahasa awam.

“Kurasa ini bagus,” komentar Hyora, “untuk mahasiswa kedokteran semester awal ini mudah dipahami kurasa,” lanjutnya.

“Ya, hanya saja itu belum selesai,” Jonghyun menghela nafas berat. Jus yang ada di dalam gelasnya tinggal setengah. Ia melirik Hyora. “Kau mau?” tawarnya.

“Habiskan saja. Kau ingin kita kembali ke masa SMA yang trend dengan ciuman tak langsung?” Hyora menyikut bahu Jonghyun, membuat namja itu kembali terkekeh.

“Kalau begitu, kau mau yang langsung?” tawar Jonghyun sembari melingkarkan lengannya di pinggang Hyora.

Hora tertawa kecil. Ia meraih sisa orange jus yang nasibnya kini dipertanyakan. “Lebih baik aku mencoba gaya anak muda saja,”

Jonghyun tersenyum. Ia kembali memandang layar laptopnya, meneruskan sisanya dan menyempurnakan lagi yang ia rasa masih kurang. Hanya selang tiga menit, ia berhenti lagi. Sesuatu yang lembut melingkar di lehernya dari belakang, lengan Hyora.

“Kau lelah?” bisik Jonghyun, ia mengusap kepala Hyora yang bersandar di lengannya.

Hyora mengangguk. Kedua matanya terpejam sesaat, lalu ia buka kembali. Ia memang lelah dan mengantuk, namun ia belum boleh tidur. Alasannya, ada satu hal yang harus ia bicarakan dengan putrinya−Yong Sang−setelah ini.

Oppa, boleh aku menemani Yong Sang malam ini?” Hyora berbisik, membuat persepsi Jonghyun tentang ‘lelah’ yang dirasakan Hyora semakin kuat.

“Tentu, Yeobo. Aku mungkin akan begadang hingga tengah malam. Kau temani saja dia agar tak terganggu.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Oppa.” Hyora berlalu setelah Jonghyun mengecup keningnya hangat.

Hyora membuka pintu kamar Yong Sang perlahan. Didapatinya gadis kecilnya masih sibuk dengan tugas yang diberikan sang guru, Victoria. Sesekali kening gadis kecil itu berkerut. Masih berkutat dengan perpaduan warna apa yang pas untuk mewarnai seekor kupu-kupu?

“Yong sang-ahUmma datang,” bisik Hyora, kemudian ia berjingkrak ke arah putrinya dan terlihat antusias.

Tak kalah antusiasnya dengan Hyora, kerutan di kening Yong Sang raib begitu mendengar suara ibunya. Ia segera duduk manis di hadapan Hyora lalu berbisik, “Bagaimana, Umma, besok kita jadi pergi, kan?”

“Tentu,” ucap Hyora pelan.

“Apakah hari ini appa kelelahan lagi?”

“Sepertinya begitu, matanya bahkan sampai membentuk kantong,” Hyora mendesah. Entah ia harus kagum atau memarahi Jonghyun dengan kebiasaan buruknya itu.

“Kantong?” Yong Sang bergumam, “hmm..,” ia tahu besok harus melakukan apa.

***

Yong Sang memainkan sendok dan garpunya. Mengadu keduanya hingga menimbulkan bunyi gesekan yang terkesan sumbang. Ia tak sabar menunggu makanan yang disiapkan Hyora. Ia memutar bola matanya. Sesosok makhluk urakan muncul dari tangga. Rambut acak-acakan dan pakaian tidak karuan membuatnya terlihat mengenaskan, bahkan lebih buruk dari seorang pengangguran.

“Pa.. hmm..,gi, Yong Huamm.., Sang hh..−ah!” Jonghyun menguap lebar. Entah yang baru dilontarkannya sebuah sapaan atau yang lain, namun Yong Sang tau, itu bukan istilah medis yang biasa diucapkannya jika ia masih setengah sadar.

“Pagi, Appa!” balas Yong Sang. Ia mendecakkan lidahnya. Huh, ia benar-benar telah menemukan sebuah benda yang akan dicarinya nanti.

Hyora datang dari dapur dengan tiga mangkuk bubur ayam. Asap mengepul dari dalam mangkuk, menandakan ketiganya baru saja matang dan siap untuk disantap.

Jonghyun meraih sendoknya, menyendok buburnya tanpa selera. Kedua kelopak matanya tak bisa terbuka dengan sempurna, berat dan terasa begitu nikmat jika dipejamkan.

Oppa, sampai jam berapa kau begadang semalam?” Hyora yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Jonghyun merasa risih dengan sikap suaminya.

Mollayo, kurasa jam tiga,” jawabnya asal. Dan sekarang pukul 6 pagi. Hanya tenggang tiga jam. Jelas saja kondisinya menyedihkan seperti itu.

Hyora hanya menggeleng lalu meneruskan menyantap buburnya. Tak ada pembicaraan lagi antara mereka setelah itu. Ketiganya asyik menghetikan kudeta para cacing di perut mereka. Sementara di lain pihak, bicara saat makan bukan hal yang sopan. Itu suatu nilai kesopanan umum yang tertatam erat di keluarga mereka.

***

Jonghyun menatap hasil USG pasiennya−gadis 17 tahun yang telat haid 3 bulan setelah melakukan hubungan sex dengan namja chingu-ya. Ia menghela nafas. Tidak ada janin di rahimnya. Masalah ada pada ukuran rahimnya yang lebih kecil dari ukuran normal.

“Anda tak perlu khawatir, Agassi. Masalahnya ada di ukuran rahimmu yang kurang dari batas normal. Hanya sedikit. Banyak mitos yang mengatakan dengan keadaan rahim seperti itu akan sulit memiliki anak. Namun kau tak perlu khawatir. Aku akan menuliskan resep obat yang akan membuat menstruasimu teratur kembali.” jelas Jonghyun pada pasien di hadapannya−yang masih memasang ekspresi takut dan cemas.

“Lalu, bagaimana, Dokter Kim?” tanya gadis gitu, menunjukkan satu lagi kebingungannya.

“Tiga bulan setelah kau mengkonsumsi obat itu datanglah kemari, kita akan lihat perkembangannya.” ucap Jonghyun tersenyum, menunjukkan rasa empatinya.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Dok.”

Jonghyun mendesah begitu pasien itu berlalu. Hampir pukul 7 malam. Ia tak kuat lagi memaksakan senyum seperti tadi. Entah seperti apa wajahnya sekarang. Kepalanya berdenyut, sementara badannya mulai bergetar seolah akan ambruk. Ia segera bangkit dan melepas jas putihnya. Syukurlah, pasien tadi ada di daftar terkhir. Jadi ia bisa pulang dan bergelut dengan gulingnya.

Koridor sepi dan remang-remang tak membuat Jonghyun mengalihkan pandangannya. Ia lebih takut tidak bisa menyentuh tempat tidurnya daripada dicegat penunggu koridor itu.

“Jonghyun-ah,” sebuah suara memanggilnya.

Jonghyun berbalik. Ia mendapati sejawatnya−Kim Taeyeon−berdiri tak jauh di belakangnya. Gadis itu menjinjing sebuah tas kecil.

Jonghyun tersenyum tipis, tentu dengan pemaksaan yang hebat. Ia bersumpah, ini adalah senyuman terakhir yang ia berikan untuk siapa saja yang ia temui di rumah sakit hari ini.

“Ada apa, Taeyeon−ah?” tanya Jonghyun pelan, senada dengan ekspresi wajahnya.

“Ini untukmu,” Taeyeon menyerahkan tas yang dijinjingnya. Lebih tepat lagi benda yang ada di dalam tas itu, cumi goreng tepung. “Saengil chukka hamnida.”

Jonghyun terperanjat. Ia terdiam sesaat, berusaha menjernihkan jalan pikirannya yang kumal oleh kantuk. “Kau bilang apa barusan?”

Ne?” giliran Taeyeon yang terperanjat. Bagaimana mungkin seorang Jonghyun yang narsis lupa dengan ulang tahunnya sendiri? Ia tak habis pikir. “Ya, di rumah kau tidak punya kalender, apa?!”

Jonghyun buru-buru melirik ponselnya. Ada 3 SMS masuk. Dari Umma, Appa, dan Hyung-nya− Kim Jongwoon, ketiganya mengucapkan selamat ulang tahun.  Benar sekarang tanggal 8 April. Ia terdiam lagi. Jika memang ini tanggal 8 April, mengapa tak seorang pun mengucapkan selamat padanya? Tak terkecuali Hyora dan Yong Sang.

“Jonghyun-ah, kau baik-baik saja?” Taeyeon melambaikan tangannya, melihat makhluk di hadapannya tak menunjukkan respon non verbal yang berarti. Satu lagi alasan, wajah namja itu tak menunjukkan kalau ia dalam keadaan sadar seutuhnya saat ini.

Ne?” Jonghyun menjadi salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Aku tak apa. Terima kasih sudah mengingatkanku. Err, dan terima kasih juga untuk ini.” ia menunjuk tas kecil yang ada di tangan kanannya.

“Sama-sama.” Taeyeon tertawa kecil. Kesibukan pekerjaan ternyata bisa mengalahkan tingkat kenarsisan seseorang. Ia kini beralih pada ponselnya, mengetik sebuah pesan yang terlihat tak bisa ditunda.

Tit.. tit.. tit.., suara ponsel Jonghyun menciptakan suasana hening diantara mereka. Jonghyun mengernyitkan alisnya. Lee Taemin, nama yang tertulis pada panggilan masuknya.

Ne, yeoboseyo, Taemin-ah?”

Hyung, bisa kau bantu aku sekarang?!” suara Taemin terdengar panik di ujung sana.

“Ada apa memang?” Jonghyun semakin tak mengerti. Tidak biasanya Taemin berbicara sepanik itu padanya.

“Bantu aku menyelesaikan laporan tentang difteri, Hyung. Datanglah ke rumahku sekarang!” suara Taemin terdengar makin panik. Ia mendesah, seolah dirinya akan digantung dosen jika tak mampu menyelesaikan tugas itu sekarang.

“Sekarang?” Jonghyun meminta kepastian dengan nada parau. Ia punya tiga alasan untuk bingung. Pertama, Taemin adalah calon sejawatnya, ia tak mungkin mengabaikan permohonannya, terlebih lagi Taemin adik iparnya. Kedua, bagaimana ia bisa membantu Taemin dengan keadaan dibayangi setan mimpi seperti ini? Ketiga, bagaimana dengan ulang tahunnya?

HYUNG, KUMOHON!” kali ini Taemin benar-benar meringis.

Jonghyun mendesah pasrah, “Ne, tunggu aku setengah jam lagi.” ujarnya lalu menutup ponselnya.

“Dia memintamu untuk membantu menyelesaikan tugasnya?” tanya Taeyeon begitu Jonghyun memasukkan ponselnya.

Jonghyun mengangguk. “Aku pergi dulu. Sekali lagi gomawo, Taeyeon-ah.”

***

Jonghyun menginjakkan kakinya di depan pintu kamar Taemin, masuk dengan langkah gontai. Ditatapnya punggung Taemin. Namja itu terlihat serius dengan laptop di hadapannya. Jonghyun merebahkan tubuhnya di tempat tidur Taemin, membuat pemiliknya menoleh, baru menyadari keberadaannya.

“Kenapa tidak bilang kalau kau sudah datang, Hyung?” tanya Taemin polos, melemparkan tatapan ‘seenaknya saja masuk kamar orang’.

“Barusan aku sudah mengetuk pintu, kau saja yang tidak dengar,” dengus Jonghyun tak acuh. Ia melipat kedua lenganya di belakang kepalanya, memejamkan sekilas kelopak mata malangnya yang terforsir sejak semalam.

 ”Apa yang bisa aku bantu?” tanya Jonghyun to the point. Kedua matanya mungkin terpejam, namun telinganya masih mampu bekerja dengan baik. “Pengertian difteri, patofisologi, perjalanan alamiah penyakit, cara penularan, cara pencegahan, atau apa?”

“Aku sudah menyelesaikan semua itu, Hyung.” aku Taemin.

“Lalu?”

“Err, bisa bantu membuatkan judul untuk tugasku?” pinta Taemin, membuat kedua mata sekarat Jonghyun menatapnya tajam. Taemin memamerkan sederet gigi putihnya, berharap Jonghyun tak akan mencekiknya sekarang.

“Kau bilang apa?” lagi-lagi Jonghyun bertanya dengan nada yang sama dengan yang dilontarkannya pada Taeyeon di rumah sakit tadi. Ia mendesah.  Ingin sekali rasanya ia menggantikan dosen Taemin untuk menggantungnya di atap fakultas besok. Mahasiswa kedokteran semester IV macam mana yang membuat judul untuk kasus saja tidak becus?

Hyung,” Taemin memamerkan giginya lagi. “Ayo bantu aku,”

Aish, Lee Taemin, kau memintaku ke sini hanya untuk itu?!” Jonghyun bangkit. Ia mengepalkan tangannya, bersiap merontokkan gigi Taemin yang membuatnya naik darah.

Hyung, ampun. Aku bingung, sungguh!” sang sasaran cepat-cepat melindungi kepalanya.

Jonghyun menghela nafas panjang. Ia berjalan menuju ke sudut ruangan, mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Kalau kau ingin cepat selesai jangan tutup wajahmu seperti itu. Cepat katakan kau bingung di bagian mana.”

Taemin mengangkat kepalanya. Tumben Jonghyun tidak marah dengan sifat kanak-kanaknya. Sekali lagi Taemin mencermati wajah Jonghyun, memastikan namja itu masih waras dengan kondisi fisik yang terlihat under estimate.

“Cepat katakan kesulitanmu.”

“Sebenarnya judulnya sudah ada, penanggulangan KLB difteri pada pasien anak.” aku Taemin lagi, membuat Jonghyun mendelik. “Err, bagian mana yang harus ditulis dengan huruf kapital?”

Mworago?!” ish, sekali lagi Jonghyun ingin menjitak kepala Taemin. Apa dia tak pernah belajar tata bahasa yang baik waktu SD?

***

Jonghyun meringkuk di atas tempat tidur Taemin. Kepalanya terasa makin pening. Jujur, ia merasa kesal. Ada apa dengan Taemin? Kenapa bermasalah dengan hal ‘Anak SD saja jarang bermasalah dengan itu?’ “Apa bocah ini sengaja mengerjaiku? Aish!” umpat Jonghyun kesal.

“Yeah selesai!” Taemin berseru, membuat Jonghyun membuka matanya. Ia bergegas bangun.

“Boleh aku pulang sekarang?” tanya Jonghyun datar sambil mengucek matanya. Ia rasa kantong matanya telah berubah menjadi dua tingkat.

“Jonghyun-ah, bisa kau bantu aku sebentar?” belum sempat Taemin menjawab seorang namja masuk ke tengah-tengah percakapan mereka.

Jonghyun menunduk. Kepalanya terasa makin berat. Ia menatap Jinki tak ikhlas lalu berkata, “Kau mau minta tolong apa, Jinki-Hyung?” nada suaranya bahkan terdengar ‘mati saja sana!’

***

Jinki memperlihatkan satu persatu foto yeoja yang ia simpan di laptopnya. Beruntung saat ini sang master cinta−Jonghyun−sedang ada di sampingnya. Ia berharap namja itu akan membantunya untuk mencari gadis yang tepat.

“Kalau yang ini bagaimana menurutmu, Jonghyun-ah?” Jinki memperlihatkan foto seorang yeoja berambut gelap yang tengah duduk di sebuah bangku kuliah.

Ne?” Jonghyun membuka matanya yang amat terasa berat. Ia bahkan hampir tak memperhatikan foto-foto siapa saja yang ditunjukkan Jinki padanya. Sejak tadi yang dilakukannya hanya bersandar di punggung Jinki dengan mata terpejam. Dan bodohnya laki-laki yang 1 tahun lebih tua darinya itu tak menyadari ocehannya diabaikan sejak tadi.

Ya, dengarkan kakak iparmu bicara!” hardik Jinki, terlihat kesal dengan tingkah Jonghyun yang ia anggap tidak hormat.

“Kau ingin mencari yeoja lagi?” Jonghyun mencibir. Kedua matanya yang kini mengalahkan mata sipit Jinki menatap namja itu bingung. “Kau bukannya sudah bertunangan?”

Aish, pabo!” Jinki menoyor kepala Jonghyun. “Ini untuk Taemin. Cepat perhatikan!”

Jonghyun menguap lebar. Ia tak bisa mengingat mimpinya semalam. Entah apa yang membuatnya menjadi korban Kakak dan adik Hyora. Kedua orang itu yang tak waras hari ini, atau dirinya sendiri yang sudah mulai gila?

Dengan terpaksa Jonghyun melebarkan kedua matanya. Dengan modal wajah pucat pasi dan isi otak sekitar 10%, Jonghyun memenuhi keinginan Jinki untuk memilih seorang gadis untuk Taemin. Ia memang maniak dalam memburu gadis zaman SMA. Namun kali ini, untuk pertama kalinya ia merasa bosan melihat kumpulan foto para gadis. Dalam keadaannya seperti ini tak ada yang lebih cantik dari spring bed dan lebih sexy dari bantal guling.

“Bagaimana dengan ini, Jonghyun-ah?”

“Tidak.”

“Yang ini?”

Aniyo.”

“Lalu yang ini?”

“Boleh, dia saja.” baru tiga foto gadis yang diperlihatkan Jinki, Jonghyun sudah menjatuhkan pilihannya. “Nah, aku pulang, ya?”

“Tunggu!” Jinki mencegat Jonghyun. “Kau ini tidak ikhlas sekali, sih? Gampang sekali menjatuhkan pilihan.”

Jonghyun mendesah lagi. Ingin menangis rasanya. Haruskah dengan keadaan seperti orang mau mati ini ia memberi Jinki ceramah tentang kenapa dia menjatuhkan pilihan pada yeoja itu?

Jonghyun menyandarkan dagunya di pundak Jinki. Ia mendekatkan ujung bibirnya ke telinga namja itu dan bernafas begitu pelan. Dengan kondisi mata masih terpejam ia membuka mulutnya. “Dengarkan baik-baik, aku hanya akan bicara sekali. Aku bisa menilai orang hanya dari matanya. Dan aku suka dengan sinar mata gadis itu, ceria dan jujur. Kau puas?”

Jinki terdiam sejenak. Im Yoona, memang seperti yang dikatakan Jonghyun. Itu berarti..,

“Kalau aku tipikal yang seperti apa?” benar sja, sikap kekanak-kanakan Jinki muncul.

“Kau polos, kekanak-kanakan, tapi bijaksana.” Sekali lagi Jonghyun berbisik dengan sisa-sisa tenaganya. “Namun sayang, kau bodoh. Bodoh sekali meminta pendapat padaku−yang sedang dalam keadaan seperti ini. Kalau kau bertanya lain waktu mungkin aku akan menjawabnya dengan lebih serius.” kali ini Jonghyun benar-benar menyandarkan kepalanya di pundak Jinki. Kedua matanya tertutup rapat, ia sudah tak tahan lagi.

“Hahahahaha!” Jinki malah tertawa dibuatnya. “Ya, kau masih punya tamu dua orang lagi. Jangan tidur dulu.”

Andwae. Aku tidak tahan, Hyung!” Jonghyun tetap bergeming. Tak peduli meski Jinki menguncang-guncang badannya.

Diantara kesadarannya yang hampir  tak tersisa, Jonghyun bisa mendengar Jinki mendesah, mengusap puncak kepalanya lalu berbisik ‘payah kau!’

“Yong Sang-ahappa-mu sudah game over!” ucap Jinki, sedikit berteriak.

“Kau bilang siapa tadi, Hyung?” Jonghyun terperanjat. Bukan volume suara Jinki yang membuatnya terbangun melainkan nama yang disebutkannya.

Saengil chukka hamnida, Appa!” nama yang ditanyakan Jonghyun mucul dari balik pintu bersama Hyora dan Taemin.

Kedua mata Jonghyun membulat sempurna. Yong Sang berdiri sambil membawa sebuah kado ditemani Hyora yang membawa sebuah kue tart coklat dan Taemin yang membawa sesuatu di balik punggungnya. Astaga, benar saja kecurigaan yang dirasakan Jonghyun sejak tadi. Ia memang korban dalam kasus ini.

Saengil chukka hamnida.., saengil chukka hamnida…,

Nyanyian itu memenuhi kamar Jinki. Sementara yang lain sibuk bernyanyi, Jonghyun masih terlihat bimbang, apakah ia harus menangis atau tertawa sekarang?

Cresshh… Jonghyun bahkan masih membeku ketika ada cairan yang mengalir di kepalanya.

“Ayo bangun, Hyung!” umpat Taemin kesal, melihat Jonghyun masih belum bergerak meski ia sudah mengguyurnya dengan sebotol air mineral yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

Ya!” Jonghyun baru sadar beberapa menit kemudian.

Ya, lantai kamarku basah, Taemin-ah!” Jinki menjitak Taemin.

Riuh tawa pecah diantara mereka. Harus diakui, itu memang menyebalkan untuk Jonghyun dan Jinki. Tapi toh tidak salah mereka melakukan kegilaan di hari yang dirayakan setauh sekali ini. Mungkin saja tahun depan mereka tak bisa menemukan kerbersamaan ini lagi.

 “Appa, aku punya sesuatu untukmu.” Yong Sang menyerahkan kado yang dililit pita pink pada Jonghyun.  “Bukalah,”

Jonghyun tersenyum. “Terimakasih, Sayang.” ia mengusap puncak kepala Yong Sang. Sejurus kemudian jemarinya dengan trampil membuka bungkusan itu.

 Benda bermotif  hitam putih dengan lingkar hitam di sekitar matanya. “Boneka panda?” refleks Jonghyun melontarkan pertanyaan itu.

“Mirip denganmu kan, Appa?” Yong Sang memamerkan giginya. Itulah benda yang dipikirkannya setelah melihat Jonghyun ketika sarapan. “Appajangan memaksakan diri seperti itu lagi. Jadi buruk rupa, kan?” ujar Yong Sang polos. Yang ia maksud dengan buruk rupa tentu bukan panda yang memiliki lingkar hitam di matanya, melainkan Jonghyun yang terlihat tidak konsisten dan acak-acakan. Sekali lagi tawa memenuhi kamar Jinki. Gadis cilik berusia lima tahun baru saja memberi pelajaran sederhana untuk semuanya.

***

“Yak, selesai!” Jonghyun mengarahkan kursor ke tanda turn off.

“Barusan kau bilang mengantuk, sekarang masih saja antusias dengan materi seminar itu, dasar!” rutuk Hyora dari balik selimutnya.

Jonghyun naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping Hyora. “Entahlah, rasa kantukku hilang begitu saja tadi.” akunya, “ngomong-ngomong bagaimana kalian merencanakan yang tadi?”

“Tidak sulit,” gumam Hyora. “Sejak awal aku dan Yong Sang memang berencana untuk merayakan ulang tahunmu di rumah umma, yah agar lebih ramai. Aku meminta Taemin dan Jinki Oppa untuk menghambatmu karena aku masih membuat kue saat itu. Kemudian aku ingat, keadaanmu tadi pagi, kau pasti lupa kalau sekarang tanggal berapa. Jadi, Jinki Oppamemberitahu Taeyeon Eonnie untuk mengingatkanmu. Setelah TaeyeonEonnie mengirim SMS, giliran Taemin yang beraksi. Dan begitu seterusnya.”

“Ohh,” Jonghyun mengangguk. Rencana kelima orang itu berjalan sempurna. Dan sekarang ia harus berterima kasih karena mereka telah membuatnya melupakan rasa kantuknya hingga ia berhasil menyelesaikan tugas seminarnya. “Ngomong-ngomong hadiahmu mana, Chagi?

Hyora tersenyum. Ia mendekat, perlahan naik ke atas tubuh Jonghyun, membuat namja itu mengerutkan alisnya. Jari-jari Hyora mengelus pipi Jonghyun. Ekspresi wajahnya terlihat seduktif.  Apa Hyora ingin melakukan ‘itu’ sekarang? Tidak mungkin. Ia tak pernah memulai permainan lebih dulu.

“Aku punya dua hal untukmu,” bisik Hyora, jemarinya mengusap lagi pipi Jonghyun, lembut.

First?

Hyora memejamkan matanya. Bibirnya menggapai bibir Jonghyun perlahan, lembut dan manis. “Ingat, semalam kau ingin yang langsung?”

Jonghyun terkekeh. “Second?”

 “Kau yakin ingin menerimanya?”

Jonghyun mengangguk.

Hyora bangkit dan berjalan ke dapur. Senyum misteriusnya membuat Jonghyun memiliki persepsi aneh dengan apa yag akan ia berikan. Selang beberapa menit Hyora kembali sambil membawa kain putih kecil yang membungkus sesuatu dengan sebuah karet dibagian atas yang mengikatnya agar tak lepas.

“Apa itu, Chagi?”

Hyora tersenyum lagi. “Sehelai kain dengan es batu. Kompres mata.” paparnya enteng.

Ya!” Jonghyun menarik Hyora, mengajak wanita itu bergulat di atas tempat tidur. Aish, bahkan istrinya sendiri ikut mengerjainya.

“Hentikan, Oppa. Ayo kompres matamu. Tak mungkin kau memberi seminar dengan mata seperti itu besok.” ringis Hyora, menahan tawanya akibat gerakan lincah jari-jari Jonghyun yang menggelitikki tulang iganya.

“Nene, arraseo, yeobo.”

***

Note: From Yong Sang

Kau boleh melakukan melakukan apapun yang kau suka, mengerjakan sesuatu yang kau kehendaki dengan senang hati. Namun ingatlah pada kemampuanmu sendiri. Kau boleh berusaha, namun jangan terlalu memaksakan diri. Akibatnya, kau mungkin akan tampil buruk dan tidak ikhlas melakukan sesuatu meskipun itu tak seberapa, contohnya Appa-ku.

FIN